Selasa, 10 Januari 2017, 08:36

Episode Baru Perbedaan Islam Di Eropa, Sebuah Ikhtiar Sejarah

Sawal, S.Pd, M.Pd.I

Dosen Sekolah Tinggi Said Perintah Masohi

Arab, Bizantium dan Persia

Wal Asri (Demi Masa). Sebelum Muhammad datang, bangsa Arab yang tinggal di tengah semenanjung bu- kanlah sebuah bangsa melainkan sekumpulan suku yang sebagian besar Nomaden dan sisanya tinggal di kota-kota serta disatukan oleh bahasa, kebiasaan, dan tradisi serta tidak memiliki pemerintahan pusat atau organisasi. Ikatan terkuat antara mereka adalah ikatan Darah. Apabila ada satu anggota suku terbunuh, maka anggota suku yang lain akan melakukan balas dendam dan berlangsung begitu seterusnya tanpa henti dan dari generasi ke generasi hing- ga tanah tersebut diisi dengan serangkaian pertumpahan darah. Bagi masyarakat Arab suku adalah segala-galanya. Mati dan hidup seseorang sangat bergantung pada proteksi sukunya. Kehidupan mereka di padang pasir mengharuskan mereka menjelajahi wilayah kosong, kering dan luas untuk mendapatkan rumput dan air dalam jumlah banyak untuk unta-unta mereka. Sebelum ada lembaga yang menjalankan fungsi negara seperti yang kita kenal sekarang, dalam konteks Arab, hanya sukulah yang bisa menjamin kesela- matan diri dan harta kekayaan mereka. Hidup tanpa suku seperti hidup tanpa negara masa kini. Loyalitas kepala suku seperti loyalitas kepada negara. Judul dalam salah satu sub bab dalam kitab Muqaddimah karangan Ibn Khaldun mencerminkan hal ini hanya suku-suku yang diikat dengan perasaan kesukuan yang kuat (ahl al-Assabiyah) yang bisa hidup dipadang pasir.

Secara geografi sebelum berkembang, letak jezirah Arab sangat terisolasi, baik dari sisi daratan maupun lautan. Kawasan ini tempat Muhammad tampil dengan membawa misi kenabiannya. Kebiasan mereka (orang Arab) seba- gaimana dijelaskan di atas, selalu mengalami perselisihan yang membawa peperangan antara suku berlangsung da- lam skala besar-besaran di stepa-stepa jazirah tersebut. Dari sudut padang negara-negara adikuasa, Arabia merupakan kawasan terpencil dan biadab (belum beradap), sekalipun memiliki posisi penting sebagai kawasan penyangga dalam ajang perebutan kekuasanan politik di Timur Tengah, yang ketika itu di dominasi dua emperium besar Bizantium dan Persia. Pandangan negara adikuasa dalam sejarah Islam-pun dapat kita temukan yaitu, Arab terkenal dengan sebutan zaman jahiliyah.

Jezirah Arab biasa disebut Timur Tengah adalah jalur penghubung timur dan barat, maka wajarlah ia menjadi tempat menyampaikan pesan IIahi yang terakhir. Quraish Shihab, Pada masa Nabi Muhammad SAW, abad ke 5 dan6 M, terdapat dua adikuasa Bizantium dan Persia. Kedua adikuasa ini bersitegang memperebutkan wilayah Hijaz di Timur Tengah yang ketika itu belum terkuasai.

Posisi Arab dan kesukuan yang kuat nabi Muhammad dilahirkan dalam masyarakat yang demikian. Sebagai pembawa ajaran yang menjunjung tinggi kebenaran dan kema- nusiaan, Muhammad segera melakukan detribalisasi. Posisi suku sebagai pusat kesadaran sosial, politik dan budaya Arab sebagaimana disinggung tersebut, secara bertahap digantikan nilai-nilai universal Islam. Muhammad tampil dengan posisi strategis sebagai nabi. Beliau lahir dari kaummnya sendiri (kaum Qurais) untuk menyiarkan Islam di saat Jezirah Arab belum terkuasai oleh dua kekuatan Bizantium dan Persia. Dengan kekuatan dakwah Muham- mad Islam diyakini sebagai agama bagi masyarakat Arab dan masyarakat lain di belahan dunia sampai saat ini.

Proses ini tentu tidaklah mudah, Muhammad SAW melihat fanatisme kesukuan sebagai fondasi yang sangat lemah untuk membangun masyarakat yang kokoh. Maka detribalisasi pun dilancarkan. Nabi melebur ikatan-ikatan kesukuan masyarakat muslim, menggantikannya dengan ikatan persaudaraan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan (fil- lah). Setelah mempersaudarakan sesama Muhajirin, nabi- pun mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, hal mana hubungan darah digantikan dengan hubungan keislaman, saling membela dalam kebenaran. Contoh pada waktu Abu Thalib paman nabi wafat, Ali dan Jafar, dua anaknya, tidak medapatkan warisan kerena mereka sudah masuk Islam, sementara dua anaknya yang lain Thalib dan Aqil mendapatkannya karena mereka masih kafir. Larangan saling mewarisi antara kafir dan muslim menyampaikan pesan kuat bahwa hubungan keislaman kini menggantikan hubungan darah. Pada saat yang berbeda ketika Umar menyusun administrasi pemerintahan di Syiria, dia bertanya pada Bilal yang pada saat itu tinggal di Syiria sebagai tentara, dengan kelompok mana dia ingin dimasukan. Bilal menjawab supaya dimasukkan ke kelompok yang ada Abu Ruwayha saya tidak akan pernah meninggalkannya karena nabi telah menetapkan persaudaraan saya dengan dia. Berdasarkan kisah tersebut terdapat dua produk hukum dalam Islam yaitu hukum tentang mawaris dalam Islam menjadi patokan dalam menyelesaikan perkara sengketa harta kekayaan. Dan persaudaraan sesama muslim Nabi bersabda, Seorang muslim itu adalah bersaudara dengan muslim lainnya. Jadi, Islam memiliki ikatan persaudaraan yang pangkatnya lebih tinggi dari ikatan suku atau kampong (Kampung).

Menembus Jantung Eropa

Jauh sebelum Perang Salib pada abad 11, Islam sudah memasuki jantung Eropa. Jajahan Romawi di Afrika Utara seluruhnya jatuh ketangan umat Islam. Bahasa Arab juga menjadi bahasa dominan pada waktu itu. Rakyatnya juga berganti agama. Inilah sebabnya, mengapa orang Eropa punya dendam sejarah. Kedua, jatuhnya Konstantinopel di tangan Turki Usmani, di bawah pimpinan Sultan Muhammad II. Mengapa bangsa Barat tidak memusuhi Hindu atau Budha? Karena memang dua agama ini tidak pemah me- masuki jantung Eropa.

Dari situlah, mereka melihat Islam sebagai sesuatu yang berbahaya. Tetapi mereka lupa, bahwa setelah kekuasaan Islam jatuh, mulai sejak awal abad 16 atau ketika jatuh Turki Usmani pada akhir abad 17, mereka mulai menjajah kita. Hampir seluruh negara-negara Muslim dijajah oleh Eropa, kecuali tiga negara: Arab Saudi, Turki, dan Afghanistan. Negara yang disebut terakhir memang pernah dijajah oleh Uni Soviet, tetapi gagal. Afghanistan ini sebuah bangsa Muslim yang miskin, tetapi semangat juang mereka tinggi sekali. Mereka adalah suku bangsa yang tidak bisa dijajah.

Ulasan singkat tersebut sebagai bibit pertumbuhan Islam di Eropa. Islam merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa dan Amerika. Islam kini makin mendapat tempat di hati masyarakat Eropa dan Amerika. Sejak menyebarnya Islam ke Eropa pada abad ke-7 Masehi melalui Andalusia (Spanyol) oleh pasukan Thariq bin Ziyad, panglima tentara dari Dinasti Bani Umayyah.

Hasil studi yang dirilis akhir tahun lalu menemukan bahwa Eropa memiliki sedikitnya 38 juta muslim atau sebe- sar lima persen dari total populasi benua tersebut. Muslim di Eropa sebagian besar terkonsentrasi di Eropa Tengah dan Timur. Sementara itu, Rusia memiliki lebih dari 16 juta penduduk muslim, angka ini merupakan yang terbesar di Eropa. Sedangkan penduduk muslim di Jerman sebanyak

4,5 juta, Prancis sebanyak 3,5 juta jiwa, Inggris sekitar 2 juta orang, dan Italia sebanyak 1,3 juta jiwa.

Sisanya tersebar di beberapa negara Eropa lainnya seperti Portugal, Swedia, Belanda, Swiss, Belgia, dan lainnya. Jumlah ini diperkirakan masih akan terus bertambah. Sebuah hasil studi di Rusia menyebutkan, jumlah pemeluk Islam di negara Beruang Merah tersebut mencapai 25 juta jiwa dari total populasi yang mencapai 145 juta jiwa.

Fenomena terbalik, kemunculan ISIS merupakan buah dari ketidakstabilan (instabilitas) politik dan sekuriti di negara-negara Arab. Menurut sebuah teori sosiologi politik, tatkala negara lemah tak mampu memelihara stabilitas politik dan keamanan saat itu pula aktor dan kelompok non-negara menguat untuk menguasai wilayah yang va- kum dari kekuasaan negara. Dunia Arab atau TimurTengah secara keseluruhan merupakan salah satu wilayah regional paling tidak stabil sejak usai Perang Dunia II. Sejak masa itu sampai sekarang, wilayah ini hampir selalu menjadi pusat pergolakan politik dan kekerasan. Faktor utamanya adalah konflik Palestina-lsrael, pertarungan dan kontestasi di antara negara-negara Arab sendiri, dan konflik poli- tik domestik di banyak negara Arab antara rezim otori- tarisme dan gerakan Islamis seperti Ikhwanul Muslimin dan berbagai kelompok sempalannya serta kaum Salafi.

Puncak instabilitas Dunia Arab dewasa ini bermula dengan serbuan Amerika Serikat dan sekutu ke Irak untuk menjatuhkan Presiden Saddam Hussein pada Maret 2003. Sejak saat itu, Irak berubah dari salah satu negara terkuat di Timur Tengah menjadi wilayah paling tidak stabil yang membara dengan konflik sektarianisme religio-politik. Mundurnya pasukan AS dan sekutu berikut terbentuknya pemerintahan Irak (sejak di bawah pemerintahan PM Nuri Al-Maliki) membuat kondisi Irak kian memburuk, memberi banyak ruang bagi kemunculan kekuatan aktor non-negara yang umumnya adalah kelornpok-kelompok radikal para- militer. Instabilitas Dunia Arab meningkat ketika transisi menuju demokrasi yang secara signifikan bermula sejak awal 2011.Transisi demokrasi tak hanya merontokkan negara-negara kuat di Dunia Arab seperti Mesir, Libya dan Suriah, tapi juga gagal mewujudkan keseimbangan (equi librium) baru yang krusial untuk mewujudkan stabilitas politik, sosial, dan agama (Azyumardi Azra). Perlakuan ISIS memicu gelombang pengungsi penduduk Iraq dan Syiria ke daratan Eropa di beri label Imigran.

Lebih dari empat juta warga Suriah telah melarikan diri dari perang sipil yang melanda negara tersebut untuk menjadi pengungsi di wilayah sekitar, satu juta di antaran- ya mengungsi sepanjang 10 bulan terakhir, demikian PBB menyatakan Ini adalah populasi pengungsi terbesar dari satu konflik sepanjang generasi terakhir, kata kepala ba- dan pengungsi PBB (UNHCR) Antonio Guterres. Sekitar 270.000 warga Suriah saat ini tengah mecari suaka ke Eropa, kata UNHCR. Total warga Muslim di Eropa berjum- lah 38.270.000 orang.

Eropa & Pengungsi Iraq dan Syiria

Jika imaji sectarian beragama terus membara dalam jiwa ratusan ribu pengungsi Syiria, mungkin saja mereka tidak akan menginjakkan kakinya di negara-negara Barat. Sebuah daratan yang selalu dilabeli kaum fundamentalisme beragama seperti Sayid Qutb sebagai daerah kafir.

Pada faktanya, walau menghadapi ancaman badai dan mempertaruhkan nyawa, imigran yang menghindari neraka sektarian di negaranya, akhirnya menghirup udara di tanah harapan. Mereka akan menikmati hidup baru di daer- ah yang pernah diserukan Saddam Husein sebagai zona musuh kaum beragama.

Kanselir Jerman, Angela Merkel menggambarkan de- rasnya arus gelombang pengungsi sebagai sesuatu yang mendebarkan hati demi kemanusiaan. Kesadaran demikian, mendorong Merkel untuk menjadikan Jerman, sebagai salah satu Negara Barat yang paling banyak menampung imigran.

Kuatnya keinginan para pengungsi untuk menikmati hidup di Jerman dan negara Barat lainnya, menurut Hikma- hanto Juwana, pakar Internasional dari UI ketika diwawancarai CNN, karena mempunyai kesadaran HAM yang baik dan mempunyai dasar ekonomi yang kuat dan terbesar serta memberi harapan hidup untuk damai, aman sejahtera.

Para pengungsi, lanjut Hikmahanto, lebih memilih Eropa dan tidak berusaha untuk mewujudkan hidupnya di negara-negara Teluk. Meskipun secara geografis lebih dekat dan mayoritas beragama Islam, tetapi negara-negara Timur Tengah yang dianggap kaya minyak itu ternyata dipandang tidak menawarkan keamanan dan harapan.

Walau demikian, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam dan menganggap kebijakan Barat di negara kaya minyak bukan soal kemanusiaan. Menurutnya, kebijakan Eropa telah menjadikan Laut Tengah sebagai kuburan massal para pengungsi. Sebaliknya, pemimpin tertinggi gereja Katolik di Vatikan, Paus Fransiscus menghimbau agar gereja-gerja dan lembaga-lembaga sosial menampung para pengungsi sebagai wujud panggilan iman.

Mungkin, proposisi Bernard Lewis menjadi penting dikemukakan guna memahami relasi Barat dan Islam dalam konteks hadirnya ratusanribu pengungsi di daerah Eropa. Dan berbeda dengan proposisi Huntington yang menganggap bahwa agama Islam dan Kristen maupunYahudi pada dasarnya tidak mempunyai relasi yang toleran dan bersifat menyeluruh.

Sebab bagi Lewis, relasi negatif antara Barat dan Islam selalu bersifat kondisional. Ada faktor historis, ekonomi, politik yang melatarinya dan harus dimaknai berdasarkan konteksnya masing-masing. Dan sikap intoleransi tersebut lebih kuat dan subur di kalangan Islam fundamentalisme.

Dengan meyakini catatan Lewis dimaksudkan mem- bantu memahami peradaban baru relasi Barat dan Islam yang mempunyai memori kolektif-negative sebagaimana diekspresikan oleh Geert Wilders. Bagi pemimpin sayap kanan Belanda ini, derasnya arus imigran dianggap seba- gai suatu ancaman kemakmuran, keamanan dan identitas. Ancaman demikian dapat dimaklumi dalam konteks adanya kecurigaan bahwa kasus imigran disusupi gerakan radikal beragama seperti ISIS. Tetapi realitas penderitaan dan an- caman nyawa yang dialami para imigran serta sambutan kasih oleh kalangan Eropa diyakini akan mampu meluluhkan ego sectarian dan kebencian atas perbedaan. Harapan hidup demikian menjadi alasan yang kuat untuk menangani kasus ini. Olehnya itu dalam kasus imigran, Eropa mem berikan kesan humanis untuk menerima Islam dan hidupberdampingan di daerahnya.

Sejarah Berulang (Sebuah Hipotesa)

Spanyol diduduki umat Islam pada zaman KhalifahAl-Walid (705-715M), salah seorang khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Ada tiga nama yang sering di sebut berjasa dalam penaklukan Spanyol, yaitu Musa bin Nushair, Tharif bin Malik dan Thariq bin Ziyad. Dari ketiga nama tersebut, nama terakhirlah yang sering disebut paling terkenal, karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pada perkembangannya Islam di Spanyol mewakili kejayaan Islam di Barat karena melahirkan peradaban Islam yang gemilang.

Karl Marx (1818-1883) tentang sejarah. Sejarah, de- mikian katanya, bermula dari lelucon dan berakhir den- gan tragedi. Tokoh lain lagi mengatakan, sejarah selalu mengulang dirinya sendiri dan akan berulang setiap se- ratus tahun atau satu abad. Sejarah Islam di Spanyol telah berabad-abad, dapatkah ini terjadi sebagaimana kejadian masa lalu yang dialami Islam di Spanyol? Gejalanya me- mang ada, seperti berapa fenomena seperti pembuatan kartun Nabi Muhammad SAW yang dilukiskan sebagai ses- eorang dengan memaki surban dan mengusung Bom di kepalanya di majalah Jyllands Postens, Denmark; Kartun berseri yang menceritakan tentang kisah Nabi Muhammad saw, sejak kecil hingga menikah dan menyebarkan Islam dengan gambar yang sangat menghinakan orang yang terhormat menceritakan saja tak akan tega. Film Fitna yang dibuat oleh orang Belanda Geert Wilders yang menggambarkan bahwa orang Islam itu selalu banyak istri, merendahkan wanita, dan suka membunuh dengan kejam; dan film Innocence of Muslims yang dibuat oleh Nakoula Basseley atau Sam Bacile yang tidak ingin saya lihat karena pasti senada dengan yang sebelumnya yaitu penghinaan terhadap Nabi jujungan umat Islam Muhammad saw.

Meskipun demikian, fenomena itu bukan rnerupakan bukti kalau negara Barat membenci Islam. Definisi negara sangat luas karena akan meliputi penduduk, wilayah, dan pemerintahan yang sah. Dermikian juga definisi Barat juga sangat luas karena meliputi wilayah Eropa dan Amerika yang terdiri dari beberapa negara. Sedangkan penghinaan tersebut dilakukan oleh individu yang kebetulan tinggal di Barat yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan berbicara.

Fenomena tersebut cenderung diartikan sebagai Islam- ophobia yaitu sebuah istilah atau konsep yang menggambarkan sikap prajudais atau buruk sangka, kebencian atau kekhawatiran yang tidak masuk akal terhadap Islam sebagai agama berikut pemeluknya. Kemunculan istilah tersebut ke permukaan dan menjadi wacana relatif masih baru, Istilah ini umumnya digunakan sebagai provokasi sejak dekade

1980an atau 1990an oleh masyarakat yang anti Islam teru- tama Barat.

Meskipun istilah Islamophobia relatif masih baru, se- bagai fenomena sosial, Islamophobia dapat ditelusurke belakang sampai sejarah nabi dan kerasulan. Catatan sejarah mengenai kehadiran nabi dan rasul ribuan tahun silam penuh dengan gambaran res/stensi masyarakat terhadap nabi, rasul, Islam dan segala sesuatu yang terkait dengan- nya. Untuk menyebut beberapa contoh, Rasulullah Ibrahim as ditekan untuk tidak mengajarkan tauhid dan dikejar- kejar oleh hulu-balang Raja Namrud untuk dibunuh. Kebencian itu tidak berhenti pada penahanan atas diri Ibrahim as melainkan berlanjut dengan pembakaran dirinya secara sadis di tengah alun-alun dengan disaksikan oleh khalayak dari berbagai penjuru negeri.

Hal serupa juga nampak yang di alami oleh umat Islam. Ahmed Mohamed, bocah 14 tahun pembuat jam digital yang dikira bom. Dugaan bom tak terbukti. Polisi memutuskan untuk tidak mengajukan tuntutan setelah mengetahui bahwa jam itu bukan bom, karena anggapan itu awalnya adalah asumsi. Pada kenyataannya, itu hanya jam digital yang dirancang Ahmed dari kamarnya sebagai salah proyek rekayasa. Kasus ini langsung jadi perbincangan karena reaksi guru dan sekolah yang dinilai terlalu berlebihan. Kepada Dallas Morning News, Ahmed berkata maksudnya membawa jam digital itu sekadar ingin memberi tahu kepada guru teknik tentang apa yang ia kembangkan. Itu merupakan sebuah rangkaian dari papan sirkuit, suplai daya, yang dihubungkan pada panel layar untuk menunjukkan waktu secara digital. Ada juga Char- lie Hebdo, sehingga di-asumsikan Babak baru benturan Ideologi Islam vs Barat.

Hal seperti inilah yang dikhawatirkan memicu ben- turan Islam dengan idiologi Barat yang suatu saat memu- kul mundur Islam untuk kembali ke habitatnya di Timur Tengah. Namun saya berkeyakinan rekayasa Allah swt jauh lebih berfaedah Ketika datang pertolongan Allah dan ke- menangan, dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong (Quran, An-nahl: 1-2). (***)