Minggu, 28 Februari 2021, 16:00

Internalisasi Moderasi Beragama Bagi Mahasiswa dan Pemuda Lintas Agama: PKUB Kemenag Gelar Dialog di Aceh

Kepala PKUB Nifasri Foto Bersama Perwakilan Peserta

Aceh (PKUB)---Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Nifasri, resmi menutup kegiatan Pengembangan Dialog Moderasi Beragama dan Wawasan Multikultural Bagi Organisasi Kemahasiswaan Terdampak Covid-19 di Provinsi Aceh. Kegiatan yang dilaksanakan tanggal 25 s d 27 Februari 2021 ini mengikutsertakan 50 peserta dari kalangan mahasiswa dan tokoh pemuda lintas agama se Provinsi Aceh.

Kapus dalam arahannya mengatakan bahwa pemuda adalah harapan bangsa dan di tangan pemuda negara ini akan maju kedepannya.

"Indonesia memiliki keragaman yang luar biasa dengan karakteristik yang tidak dimiliki oleh negara lain, dari sekian banyak keragaman yang ada di Indonesia jika tidak memiliki perekat yang kuat maka hal itu akan selalu mengganggu, karena pemahaman umat dalam agamanya selalu berbeda-beda. Sebagai pemuda dan mahasiswa seharusnya berpikir bahwa agama ini selalu baik. Beragama adalah hak asasi manusia yang masuk dalam kategori hak dasar yang tidak dapat dikurangi dan ditangguhkan dalam kondisi apapun, kendati demikian kita sepakat bahwa negara kita memiliki regulasi yang menjadi dasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kebebasan beragama harus dibatasi dan diatur dengan perundang-undangan atau dengan kata lain dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada undang-undang yang berlaku," jelas Kapus.

Nifasri menambahkan lagi, Kemenag sementara menggaungkan Moderasi Beragama dan ini adalah bagian dari visi-misi Kemenag.

"Melalui media seperti ini Kemenag terus melakukan berbagai upaya dan kegiatan untuk mewujudkan visi-misi kemenag, kegiatan yang nenyangkut kerukunan sangat penting karena kalau umat dan bangsa tidak rukun akan membuat keretakan atau perpecahan sesama warga negara. Melalui kegiatan ini wawasan moderasi beragama diharapkan dapat terwujud dalam keberagaman, dengan demikian kita bisa rukun dan hidup bersama dalam kedamaian," jelas Kapus lagi.

"Moderasi beragama bukan berarti agama yang dimoderatkan tetapi bagaimana kita sebagai umat beragama memiliki cara pandang dan prilaku beragama yang baik tidak ekstrim kiri dan tidak ekstrim kanan, dengan pemahaman dan wawasan yang bagus kerukunan dan kedamaian diantara kita dapat terwujud dengan baik, sebaliknya kalau pemahaman tidak bagus akan berefek pada meretakkan hubungan antar sesama manusia," pungkas Kapus.

Sebelumnya Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh Iqbal, saat membuka kegiatan mengatakan bahwa kerukunan umat beragama di Aceh sangat terjaga hal ini atas pengakuan teman-teman non muslim, kalaupun terjadi konflik itu tidak bersentuhan dengan agama, tetapi politik.

"Penghargaan masyarakat muslim di Aceh sangat terjaga. Berdasarkan Hasil survey Balitbang Kemenag Provinsi Aceh mendapat nilai yang rendah namun demikian kenyataan di Aceh sangat rukun, kalau terjadi sedikit pergesekan itu terjadi di intern agama itu sendiri dan itu tidak mempengaruhi kerukunan umat beragama secara umum di Aceh," ungkap Kakanwil.

Iqbal mengatakan lagi bahwa peristiwa di Singkil pada dasarnya hanya persoalan kecil tetapi karena di blow up oleh media termasuk asing sehingga terlihat sangat besar.

"Melalui kegiatan ini kita berharap nantinya peserta dapat menjadi menjadi terdepan di tengah-tengah masyarakat untuk mensosialisasikan kepada masyarakat di tempat dimana mahasiswa dan pemuda bermukin bahwa sampai kapanpun kedamaian di Aceh dapat dirawat," tegas Kakanwil.

Terkait hubungan umat beragama dan pemerintah daerah, Kakanwil mengatakan dapat terjalin dengan baik.

"Pemerintah Aceh menghadirkan Dinas Syariat Islam dan pemberlakuan syariat islam di Aceh tidak menjadi persoalan bagi agama lain justru agama lain merasa terlindungi dengan hadirnya Syariat Islam, hukuman cambuk misalnya ketika saudara non muslim melanggar hukum lebih memilih dicambuk daripada dikurung berbulan-bulan," Pungkas Kakanwil.

Yustinus, mahasiswa semester 8 Universitas Malikussaleh Aceh asal Kab. Pegunungan Bintang Papua mengatakan bahwa walaupun hampir seratus persen penduduk Aceh beragama Islam tapi sangat toleran.

"Selama saya berada di Aceh kurang lebih 4 tahun saya merasa aman dan nyaman dan saya melihat toleransi di Aceh sangat terjaga," jelasnya.

Pada kegiatan ini peserta sepakat membentuk organisasi yang bernama Forum Pemuda Lintas Agama yang diketuai Zulfatah, Sekretaris Zulhilmi dan Bendahara Sonia. (van)