Kamis, 19 November 2020, 10:32

Rawat Kerukunan Jelang Pilkada, FKUB Sangihe Gelar Tatap Muka dengan Kepala PKUB Kemenag

Kepala PKUB saat meninjau hasil perkebunan Pemuda FKUB Sangihe

SULUT (PKUB) Konstelasi dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah semakin dinamis, perbedaan pandangan politik berpotensi menimbulkan gesekan dalam masyarakat, peran agama menjadi penting dalam mengarahkan para penganutnya untuk memelihara kerukunan umat beragama. Terkait hal tersebut Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi, menggelar kegiatan Tatap Muka Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI dengan Pemerintah Daerah dan Tokoh Agama di Kabupaten Kepulauan Sangihe, "Merawat Kerukunan di Kabupaten Kepulauan Sangihe Jelang Pilkada, 9 Desember 2020". Kegiatan yang dilaksanakan di Pendopo Kantor Bupati ini bertujuan membangun silaturahmi serta mendengar arahan dari Kepala PKUB terkait kebijakan Kementerian Agama dalam membina kerukunan umat beragama dalam rangka terwujudnya Pilkada yang damai (18/11).

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Ezar Gagaghana bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh agama, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga agama, ormas-ormas pemuda lintas agama serta Pengurus dan anggota FKUB Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Dalam sambutannya, Bupati Jabes berterima kasih atas peran tokoh-tokoh agama dalam pembangunan Kabupaten Sangihe, termasuk pembangunan di bidang kerukunan.

"Kedepan sinergitas antara Pemkab, para tokoh agama, FKUB dan Kementerian Agama terus ditingkatkan termasuk menjalin kerjasama dan sinergitas dengan PKUB Kemenag RI," jelasnya.

Sementara itu, Kakanwil Kemenag Sulut H. Anwar Abubakar, mengatakan bahwa pembangunan ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya di negara ini tidak akan berjalan dengan baik jika persoalan kerukunan antar umat beragama tak tertangani dengan baik.

"Saya juga patut mengapresiasi Bupati Sangihe yang telah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk merawat kerukunan antar umat beragama di Sangihe, menurut saya Sangihe layak dapat Harmony Award," ungkap Abubakar.

Abubakar berpesan kepada para tokoh lintas agama di Sangihe untuk mengisi ceramah-ceramah agama mereka di hadapan umat selaras dengan visi dan misi Kementerian Agama yaitu peningkatan kesalehan umat serta peningkatan moderasi beragama dan kerukunan antar umat beragama di Sangihe.

Saat berkesempatan memberikan pembinaannya, Kepala PKUB Nifasri, mengatakan bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan membawa kemaslahatan.

"Agama mengajak semua pengikutnya untuk berbuat kebaikan dan kemaslahatan kepada siapa saja dan kerukunan antar umat beragama adalah salah satu indikator dari penghayatan dan pengamalan dari ajaran agama masing-masing," jelas Kapus.

Kapus menambahkan bahwa tugas mulia memelihara dan merawat kerukunan bukan hanya tugas pemerintah tetapi juga tugas bersama semua umat beragama, terutama sinergitas antara pemerintah dan tokoh-tokoh agama.

"Saya mengapresiasi laporan yang disampaikan oleh pengurus FKUB Sangihe, terlihat jelas sinergitas antara Pemkab dan tokoh agama dalam merawat dan memelihara kerukunan antar umat beragama, oleh karena itu, secara pribadi saya katakan bahwa Sangihe layak dapat Harmony Award", ungkap Nifasri.

Apresiasi yang sama juga disampaikan Nifasri kepada para pemuda Sangihe yang turut berkontribusi dalam memelihara kerukunan umat beragama melalui program-program inovatifnya.

"Saya juga mengapresiasi pemuda yang tergabung dalam organisasi Pemuda FKUB Kabupaten Sangihe yang berinovasi dalam pengembangan program dan kegiatannya. Saya mendapat laporan bahwa di bidang pertanian pemuda FKUB secara bersama-sama berhasil menggarap lahan mati menjadi lahan produktif untuk perkebunan. Hasil perkebunan seperti tomat, cabe, merica, dan lainnya sangat membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan harga yang yang relatif terjangkau. Dalam bidang kesenian Pemuda FKUB berhasil membentuk kelompok musik yang mengkombinasikan musik bambu dengan musik rebana sehingga menghasilkan suara musik yang khas dan indah," puji Kapus.

Terkait Peran Pemda, Nifasri mengingatkan bahwa perannya dalam menciptakan, merawat dan memelihara kerukunan sudah diatur dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 9 dan 8 tahun 2006, sehingga idealnya kerjasama dan sinergitas bisa tercipta dan pemerintah daerah lebih berperan.

"Suatu daerah dikatakan rukun ditandai dengan tiga indikator yaitu adanya toleransi antar umat beragama, adanya kesetaraan antar umat beragama dan mampu bekerja sama antar umat beragama; saya melihat ketiga indikator ini sudah ada di Sangihe, apalagi Pak Bupatinya sangat mendukung sinergitas dan kerjasama antar semua elemen untuk merawat dan melestarikan kerukunan antar umat beragama di Sangihe," pungkas Nifasri disambut tepuk tangan meriah oleh peserta yang hadir.

Di akhir sambutannya, Nifasri juga mengungkapkan bahwa ke depan Peraturan Bersama Menag dan Mendagri tentang kerukunan antar umat beragama akan dinaikan statusnya menjadi Peraturan Presiden sehingga program-program dan anggaran untuk kerja-kerja kerukunan seperti sosialisasi moderasi beragama, membangun jembatan kerukunan dan kawasan peduli kerukunan lebih maksimal dan berkesinambungan. (van)