Sabtu, 26 September 2020, 16:37

FKUB Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota: Merawat Kerukunan dengan Kearifan Lokal

Kepala PKUB (pakai batik duduk ketiga dari kiri) foto bersama Pengurus FKUB dan Kakankemenag Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh

SUMBAR (PKUB) --- Bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kab. Lima Puluh Kota, terlaksana pertemuan Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kab. Lima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh, Prov. Sumatera Barat dengan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekretariat Jenderal, Kementerian Agama RI Nifasri,( 24/9). Hadir juga dalam pertemuan ini Kasubbag Ortala dan KUB Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. Sumbar, Irda Hayati, Kepala Kantor Kemenag Kab. Lima Puluh Kota, Naharudin dan Kepala Kantor Kemenag Kota Payakumbuh, Ramza Husmen, bersama jajarannya.

Dalam sambutan Selamat Datang, Ramza Husmen menyampaikan rasa bangga atas kedatangan dan kunjungan Kepala Pusat KUB. Menurutnya Kunjungan ini dapat memberikan semangat dan penguatan bagi kinerja pengurus FKUB sebagai Forum Tokoh-Tokoh Agama untuk terus merawat kerukunan umat beragama baik intern maupun antara umat agama.

"Atas nama Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat dan Kepala Kantor Kemenag Kab. Lima Puluh Kota, saya menyampaikan Terima Kasih yang sebesar-besarnya atas kedatangan dan kunjungan Bapak Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama ke Kota Payakumbuh dan Kab. Lima Puluh Kota. Kunjungan ini sangat berarti bagi kami semua, teristimewa kesempatan yang sangat jarang terjadi bagi pengurus FKUB Kabupaten Kima Puluh Kota dan Kota Payakumbuh untuk bisa bertemu dan berdialog langsung dengan Kepala Pusat KUB. Kunjungan ini pastinya memberikan semangat dan penguatan bagi kinerja pengurus FKUB sebagai Forum Tokoh-Tokoh Agama untuk terus merawat kerukunan umat beragama baik intern maupun antara umat agama. Sekali lagi, Terima Kasih atas kehadiran Kepala Pusat KUB di tengah-tengah kami", ucap Husmen.

Ketua FKUB Kab. Lima Puluh Kota Raden Awaluddin, saat memberikan sambutan mewakili Ketua FKUB Kota Payakumbuh Erman Ali dan seluruh Pengurus FKUB dari kedua daerah yang hadir, selain menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kepala Pusat KUB juga melaporkan kondisi kehidupan umat beragama di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota yang kondisinya terawat dengan baik, saling menghormati, menghargai serta menjaga silaturahmi dan komunikasi satu dengan lainnya.

"Kami sangat senang dan gembira atas kunjungan ini, kunjungan yang memberikan kepada kami semangat dan inspirasi untuk terus bekerja maksimal. Izinkan melaporkan kepada Kepala Pusat KUB bahwa untuk sementara ini, kami khusunya di daerah Kab. Lima Puluh Kota baru ada tiga agama yang diwakili dalam kepengurusan FKUB yakni Islam, Kristen (Huria Kristen Batak Protestan/HKBP), dan Katolik. Sampai saat ini, kehidupan umat beragama di kedua daerah sangat baik dan terus terawat. Saling hormat menghormati dan menghargai satu sama lain serta tetap menjaga silaturahmi dan komunikasi menjadi prinsip yang terus kami kembangkan dan rawat sebagaimana juga menjadi budaya dan kearifan lokal masyarakat Payakumbuh dan Lima Puluh Kota, dan secara umum masyarakat Minangkabau. Kami berharap pertemuan ini menjadi kesempatan istimewa untuk kami pengurus FKUB dapat bertemu dan berdialog langsung dengan Kepala Pusat KUB Kementerian Agama RI", ucapnya.

Kepala Pusat KUB, Nifasri, dalam pengarahannya menyampaikan bahwa kehadirannya untuk memberikan dukungan dan penguatan serta membagikan informasi terkait FKUB.

"Saya berkunjung ke Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk bertemu dengan pengurus FKUB dan kedua Kankemenag bukan karena ada permasalahan tentang hidup beragama di daerah ini, tetapi lebih-lebih ingin memberikan dukungan dan penguatan serta membagikan informasi terkini tentang FKUB dan berbagai isu-isu penting terkait tugas dan fungsi kita di FKUB saat ini dan kedepannya", kata Nifasri.

Lebih jauh, Kapus menyampaikan tentang peran dan fungsi FKUB yang semakin penting dan strategis dalam merawat kerukunan umat beragama baik intern maupun antar umat beragama.

"Persoalan yang muncul sekalipun persoalan intern umat beragama tetapi ikut berpengaruh bagi kehidupan antar umat beragama di ruang publik dan sebaliknya persoalan-persoalan antar umat beragama dengan segera ikut dirasakan di dalam kehidupan intern umat beragama. Kita menjadi sadar bahwa Agama akhirnya menjadi hal penting di dalam hidup bermasyarakat, hidup berbangsa dan bernegara. Kita telah menempatkan Agama sebagai Roh dalam mengelolah hidup berbangsa dan bernegara sebagaimana nampak dalam Dasar Negara Pancasila dan Konstitusi UUD 1945, dimana Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi Sila Pertama yang ikut mewarnai Sila-Sila berikutnya. Sekalipun NKRI bukan Negara yang didasarkan pada Agama, tetapi NKRI tidak mungkin bisa dikelolah dan dirawat tanpa Roh Agama", tegas Nifasri.

Ada sejumlah persoalan-persoalan yang masih tertinggal bagaimana memaksimalkan peran dan fungsi FKUB saat ini dan kedepan diantaranya persoalan regulasi, kesadaran Pemda baik Gubernur maupuan Bupati/Walikota dalam tanggung-jawabnya memelihara kerukunan di wilayahnya, anggaran operasional FKUB, kepegurusan FKUB yang baru bisa mengakomodasi enam Agama yang selama ini diberikan pelayanan oleh Negara dan proporsional kepengurusan FKUB yang belum menghadirkan perwakilan lembaga/organisasi Perempuan dan Kepemudaan, dan pengembangan SDM pengurus FKUB lewat pelatihan-pelatihan tentang manajemen kerukunan dan manajemen konflik serta perencanaan program-progmam baik substansi maupun administrasi.

Terkait persoalan regulasi tentang FKUB, Nifasri menyampaikan bahwa Pusat Kerukunan Umat Beragama saat ini telah dalam proses mendorong dan menfasilitsi Peraturan Bersama Menteri (PBM) No 9 dan 8 Tahun 2006 untuk menjadi Peraturan Presiden, dengan harapan bahwa bila sudah menjadi Peraturan Presiden, tanggung-jawab Pemda dalam memelihara Kerukunan dan Penganggaran Operasional FKUB akan lebih baik karena memiliki Payung Hukum yang lebih kuat.

Kunjungan Kepala Pusat KUB dari Jakarta ikut didampingi oleh Kepala Subbid Pengembangan Dialog dan Multikultral, Paulus Tasik Galle dan Kasubbag TU Pusat Kerukunan Umat Beragama, Desmon Andrian (PTG).