Kamis, 24 September 2020, 11:22

Kepala PKUB: Peran dan Fungsi Strategis Tokoh Agama Khususnya Yang Tergabung Dalam FKUB Kedepannya Semakin Penting dan Dibutuhkan Dalam Pemeliharaan Kerukunan.

Kepala PKUB Nifasri (duduk kedua dari kanan) bersama Jajaran FKUB Prov. Sumbar, Jajaran Kanwil Kemenag Prov. Sumbar dan Jajaran PKUB

SUMBAR (PKUB)---Bertempat di ruang Laboratorium Umat Beragama yang berada di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, Padang, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Nifasri, bertemu dengan Pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat, (23/09).

Pertemuan ini dikoordinasikan oleh Kanwil Kemenag Provinsi Sumatera Barat lewat Sub Bagian Ortala dan KUB. Dari pihak FKUB hadir Ketua FKUB Prov. Sumbar Prof. Dr. H. Duski Samad, M. Ag, Tuanku Mudo yang lebih dikenal sebagai Buya Duski, bersama sejumlah pengurus FKUB lainnya. Pada kesempatan ini, Ketua FKUB menyampaikan sejumlah informasi tentang kondisi kerukunan umat beragama di Prov Sumbar. Buya Duski menyampaikan bahwa dirinya baru sejak tanggal 14 September 2020 ditunjuk sebagai Ketua FKUB menggantikan Ketua FKUB sebelumnya yang karena alasan kesehatan telah mengundurkan diri. Buya Duski sebelumnya sebagai Wakil Ketua FKUB Prov Sumbar. Secara umum Buya Duski menginformasikan bahwa kondisi kerukunan umat beragama di Prov Sumatera Barat tetap terawat baik.

Kita di Sumatera Barat memakai istilah memelihara kerukunan dan bukan membina kerukunan. Kerukunan sudah tercipta, tinggal kita pelihara. Pemeliharaan berbeda dengan Pembinaan. Pembinaan mengandung ada arahan, tekanan dan bentuk yang diinginkan oleh pembina. Ide dasar kerukunan itu berasal dari umat beragama, bukan settingan, arahan, dan atau tekanan dari pemerintah atau pihak mana saja. Pemeliharaan kerukunan adalah kebutuhan pokok semua umat beragama, oleh karenanya mereka secara kolektif, kolegial menjaga kerukunan dengan mengedepankan dialog dan kearifan lokal, ucapnya.

Dijelaskan bahwa ada tiga Kabupaten yakni Sijunjung, Darmasraya, dan Pasaman Barat pada tahun-tahun sebelumnya dan khususnya memasuki awal tahun 2020 menjadi pembicaraan di media sosial terkait rumah Ibadat untuk komunitas Kristen dan Katolik, namun sudah dalam koordinasi dengan semua pihak terkait dan sudah menemukan titik penyelesaiannya, teristimewa setelah FKUB turun ke lapangan mengadakan pertemuan dan dialog. Hasil yang didapatkan, menurut Buya Duski, adalah bahwa semakin sangat diperlukan adanya komunikasi yang terbuka dan jujur di antara komunitas umat beragama.

Kami melihat adanya komunikasi yang terputus. Selain itu media sosial yang semakin terbuka memberitakan informasi yang belum dicek kebenarannya sehingga narasi yang hadir di ruang publik tidak utuh bahkan cenderung media sosial ikut memprovokasi publik,ucap Buya Duski.

Seterusnya Beliau mengharapkan bahwa sejumlah hasil permbicaraan berupa kesepakatan-kesepakatan yang sudah pernah diambil bersama sebaiknya ditaati oleh semua pihak, seperti di Darmasraya apa yang pernah disepakati dengan Ninik Mamak agar dihormati dan dijalankan. Kualitas komunikasi sangat diperlukan agar supaya bila terjadi gesekan-gesekan di lapangan dapat segera diambil langkah-langkah penyelesaiannya yang tepat.

Dalam kesempatan ini, Kepala Pusat KUB menyampaikan Selamat kepada Ketua FKUB Prov Sumbar yang baru, Buya Duski, dan seluruh pengurus FKUB lainnya.

Peran dan fungsi strategis para Tokoh Agama khususnya yang tergabung dalam FKUB kedepannya semakin penting dan dibutuhkan dalam pemeliharaan kerukunan. Oleh karenanya ada sejumlah usaha yang sementara dibuat ole Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) agar FKUB semakin berdayaguna diantaranya memperjuangkan peningkatan anggaran operasional FKUB dan peningkatan payung hukum FKUB dari hanya Peraturan Bersama Menteri (PBM) menjadi Peraturan Presiden, ucap Nifasri.

Dalam penyelesaian berbagai persoalan antar umat beragama seperti pendirian rumah Ibadat, Nifasri berkeyakinan seperti yang disampaikan oleh Buya Duski, bahwa komunikasi dan dialog memegang kata kunci.

Komunikasi dan Dialog itu sangat sangat penting. Ada banyak persoalan yang bisa diselesaikan dengan komunikasi dan dialog yang baik. Kita memiliki kearifan lokal yang menjadikan musyawarah untuk mufakat sebagai forum terbaik mengambil keputusan dan langkah-langkah bersama. Dalam banyak kesempatan, saya selalu sampaikan dan yakinkan tentang hal ini,demikian penegasan Nifasri.

Selanjutnya Nifasri bercerita dan mensharingkan pengalaman tentang program Menteri Agama RI di Papua yakni Kita Cinta Papua (KCP) di mana peran dan fungsi agama kembali dikedepankan dalam ikut menyelesaikan persoalan-persoalan riil masyarakat di Papua. Ada tiga fokus dalam program ini yakni penguatan Agama, Pendidikan Agama, dan Kerukunan Umat Beragama.

Sama di Sumatera Barat, di Papua dikenal 1 Tungku 3 Batu: Agama, Adat/Budaya, dan Pemerintah (Yang Adil). Bila ketiganya terjadi sinergisitas dan kerjasama yang harmonis, bisa dipastikan akan membawa dampak yang luar biasa bagi perkembangan kualitas kehidupan masyarakat, tandas Nifasri.

Ada tiga prinsip kesadaran yang terus menerus perlu dibangun: Kesadaran akan Ketuhanan, Kesadaran akan Kemanusiaan, dan Kesadaran sebagai Warga Negara.

Dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, ketiga kesadaran ini menjadi kata kunci, karena tiga hal ini sesunggunya telah mengakomodasikan kelima nilai-nilai Pancasila. Ukuran kerukunan letaknya pada poin-poin ini. Umat Beragama yang mendalam penghayatan keagamaannya akan melahirkan solidaritas dan kepekaannya bagi hidup bersama sebagai sesama manusia dan sekaligus menjadikannya sebagai warga negara yang taat dan setia dalam menjalankan hak dan kewajibannya, ucap Nifasri mengakhiri pertemuan yang penuh kekeluargaan dan saling memperkaya ini.

Kunjungan kerja Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama ke Provinsi Sumatera Barat ikut didampingi oleh Kepala Subbid Pengembangan Dialog dan Multikultural Paulus Tasik Galle dan Kepala Subbag TU Pusat Kerukunan Umat Beragama Desmon Andrian (PTG).