Selasa, 1 September 2020, 13:55

SINDANG JATI DIRESMIKAN JADI DESA PANCASILA / DESA KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Kapus KUB saat memberi sambutan

Bengkulu (PKUB)--Dari lereng Pegunungan Bukit Barisan Pulau Sumatera ada sebuah desa yang yang dikenal secara turun temurun memiliki sikap toleransi antar umat beragama. Nama desa itu adalah Desa Sindang Jati. Secara administratif masuk di Kecamatan Sindang Kelingi, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Sejak 1962 desa ini dikenal mampu merawat kerukunan antar umat beragama. Ada empat agama yang dianut masyarakat setempat, yakni: Islam, Katolik, Kristen, dan Buddha. Saling menghargai, menghormati dan mendukung menjadi sebuah tradisi turun temurun di desa ini, misalnya dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan dan kenegaraan serta dalam mengembangkan ekonomi masyarakat dilakukan secara bersama tanpa dibatasi sekat agama, mereka merawat kebersamaan dengan mengembangkan tradisi budaya sebagai nilai-nilai Pancasila yang hidup.

Hal ini mendasari diresmikannya Desa Sindang Jati menjadi Desa Pancasila/Kerukunan Umat Beragama (23/08).

Hadir dalam peresmian tersebut, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekeretariat Jenderal Kementerian Agama Nifasri, Ketua Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi, jajaran Pemda Kabupaten Rejang Lebong, jajaran Kantor Kementerian Agama Provinsi Bengkulu, Kepala Desa dan seluruh masyarakat Sindang Jati.

Nifasri menegaskan dalam sambutannya bahwa untuk berkontribusi dalam hal kerukunan umat beragama, ada 3 (tiga) hal yang harus dimiliki sebagai modal dasar antara lain kesadaran diri sebagai manusia beragama, kesadaran diri sebagai manusia sebagai perwujudan Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, dan kesadaran diri sebagai bangsa-negara, perwujudan dari Sila ke tiga, empat dan lima dalam Pancasila.

"Sebagai anak bangsa kita harus memiliki tiga modal dasar agar mampu berkontribusi dalam hal kerukunan umat beragama antara lain kesadaran diri sebagai manusia beragama yaitu seseorang menjadikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupannya sebagai perwujudan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, berikutnya kesadaran diri sebagai manusia sebagai perwujudan Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, dan kesadaran diri sebagai bangsa-negara, perwujudan dari Sila ke tiga, empat dan lima dalam Pancasila. Bila ketiga kesadaran itu bersatu dalam diri seseorang akan menghasilkan kualitas seorang yang mencintai perbedaan dan bangsa-negaranya, dan bahkan menjadi indikator seorang yang Pancasilais," jelas Kapus.

Diketahui sebelumnya pada tanggal 8 Maret 2020, Nifasri pernah berkunjung dan berdialog dengan para tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat yang dilaksanakan di balai desa setempat.

Turut mendampingi Kapus dalam acara peresmian, Kepala Sub Bidang Pengembangan Dialog dan Multikultural PKUB, Paulus Tasik Galle, Kepala Sub Bagian TU PKUB Desmon Andrian dan Staf pada PKUB Allimudin. (PTG)