Jumat, 28 Februari 2020, 08:34

Kepala PKUB Beri Motivasi dan Pesan Kerukunan di Pesantren Ma'had Aly Idrisiyyah Tasikmalaya

Kepala PKUB Saat Memberikan Motivasi dan Pesan Kerukunan

Tasikmalaya (PKUB) - Pesantren bisa melahirkan Sumber Daya Manusia berkualitas yang dapat membela Agama dan Negara. Hal itu dikemukakan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama R.I. Dr. H. Nifasri, M.Pd., saat menjadi narasumber pada acara Kongres Ke-2 Dema Amali 2020, (25/02).

Kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Mah'ad Aly Idrisiyyah Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat ini dibuka secara resmi oleh Ketua Asosiasi Mahad Aly Indonesia Dr. KH. Abdul Djalal, M.Ag, dihadiri sekira 100 peserta dari seluruh Indonesia.

Kepala PKUB memberikan materi tentang "Dedikasi Santri Dalam Upaya Deradikalisasi di Indonesia". Di awal pemaparannya Nifasri menjelaskan tentang Negara Indonesia yang memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang kaya dan melimpah.

"Kita adalah Negara yang memiliki sumber daya alam yang melimpah, ada emas, batubara, nikel, biji besi, minyak dan lain-lain, jika itu dikelola dengan baik maka dapat membantu pemerintah dalam membangun bangsa dan negara ke arah yang lebih maju sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Hal ini tidak terlepas dari ketersediaannya sumber daya manusia yang berkualitas untuk mewujudkannya dan Pesantren adalah salah satu wadahnya", jelas Kepala PKUB

"Dunia internasional mengakui bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar juga negara berpenduk muslim terbanyak di dunia, banyak tokoh bangsa yang lahir dari kalangan Islam terlebih khusus dari santri, dengan kata lain santri telah membuktikan perannya yang konkrit membangun agama tetapi juga bangsa dan negara. Oleh sebab itu dedikasi santri dalam upaya deradikalisasi di Indonesia sangat dibutukan dan hal itu dapat diaplikasikan dengan cara memperbanyak diskusi tentang negara, menyebarkan moderasi beragama seperti yang selama ini telah dilakukan oleh santri", imbuhnya.

Berkaitan dengan radikalisme Nifasri menjelaskan bahwa paham tersebut dapat muncul dari mana saja tanpa memandang agama tujuannya untuk mengganggu kerukunan yang selama ini sudah terpelihara diantara sesama anak bangsa.

"Paham radikal janganlah dikaitkan dengan Islam, karena siapapun bisa memiliki paham radikal tersebut tujuannya antara lain memaksakan kehendak melalui jalur pintas, memaksa orang lain mengikuti apa yang diyakininya dan berupaya merubah dasar negara sesuai dengan keyakinannya melalui jalan kekerasan. Jika upaya tersebut tidak berhasil mereka tidak segan melakukan tindakan anarkhis, menteror, membunuh atau membuat kekacauan. Hal ini tidak dibenarkan dalam agama. Jika paham-paham seperti ini berkembang tentu akan merusak tatanan kehidupan masyarakat kita yang selama ini sudah hidup dalam kerukunan di bawah empat pilar negara yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia", tegas Nifasri yang juga memiliki latar belakang sebagai seorang santri lulusan Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi Sumatera Barat.

Nifasri mengakhiri pemaparannya dengan sebuah ungkapan menarik. "Santri diibaratkan seperti pohon singkong, dimanapun dilepas dia akan tumbuh bermanfaat bagi orang lain", pungkasnya. (evan)

Berita Lainnya
Sabtu, 14 Desember 2019, 10:19

Indonesia dan Ethiopia Rencanakan Dialog Lintas Agama Pada 2020 Mendatang

Senin, 9 Desember 2019, 19:47

Jelang Natal, PKUB Gelar Dialog Lintas Agama di Kota Berjuluk City of Tolerance

Selasa, 24 September 2019, 16:55

Strategi Menjaga Papua Damai, Kedepankan Agama dan Tokoh Agama

Kamis, 5 September 2019, 09:15

Dialog Lintas Agama Bukan Untuk Membenarkan Semua Agama, Tapi Membangun Toleransi

Jumat, 23 Agustus 2019, 16:31

Kepala PKUB: Program Kerja Kerukunan Harus Berdasarkan Fakta Lapangan