Kamis, 19 Desember 2019, 14:33

Di Ethiopia, PKUB Ikuti Diskusi Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan

Peserta diskusi berfoto bersama di KBRI Addis Ababa. Termasuk delegasi dari PKUB: Alief (duduk, 3 dari kanan), Hery dan Nindi (duduk, 1 dan 2 kiri)

Addis Ababa (Ethiopia), PKUB - Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, sudah barang tentu memiliki komposisi penduduk kategori perempuan dan anak yang cukup besar pula. Sudah seharusnya bagi pemerintah Indonesia memberikan perlindungan yang layak bagi para perempuan dan anak.

Perhatian Indonesia terhadap kekerasan yang terjadi pada anak dan perempuan semuanya telah diatur dalam undang-undang terkait perlindungan anak dan perempuan. Termasuk diantaranya UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Baik yang berkaitan dengan kekerasan maupun kejahatan seksual pada anak dan perempuan, bahkan beberapa daerah berinisiatif menambah hukuman bagi pelaku kejahatan seksual pada anak. Diantaranya sampai ada hukumn pelaku dikebiri tujuannya adalah membuat efek jera bagi pelaku.

Demikian pemaparan Ibu Dra. Valentina Gintings., M.Si yang merupakan Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kementerian PPPA RI dalam forum pertemuan terbatas untuk membahas isu kekerasan terhadap perempuan dan anak di Addis Ababa, Kamis (12/12). Dalam pertemuan yang diinisasi oleh Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk Addis Ababa Al Busyro Basnur tersebut, hadir delegasi dari Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB). Diantara mereka yang hadir adalah Kepala Bidang Bina Lembaga Kerukunan Agama dan Lembaga Keagamaan H. Aliefosra Nur yang dalam kesempatan ini hadir mewakili kepala PKUB. Selain beliau, hadir juga Kasubbid Penanganan Isu Kerukunan Umat Beragama A. Hery Fathurochman dan seorang staf PKUB, Nindi Novianti.

Mengetahui bahwa pertemuan terbatas itu juga dihadiri oleh delegasi Kementerian Agama, Valentina menyampaikan harapan khusus kepada Kementerian Agama. Karena informasi dan sosialisasi anti kekerasan ini bisa dan diyakini sangat efektif jika dilakukan melalui pendekatan keagamaan.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di aula Wisma KBRI tersebut Valentina menambahkan bahwa lingkungan rumah tangga, lembaga pendidikan dan lingkungan terdekat juga bisa menjadi wilayah yang paling rawan memungkinkan terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Dalam diskusi dan dialog yang kurang lebih berlangsung sekitar 3 itu, dia juga mengingatkan kepada pihak terkait termasuk kementerian dan lembaga untuk ikut serta dalam mendukung anti kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak serta pentingnya menjaga ketahanan keluarga diantaranya dengan kehadiran keluarga atau orang tua pada anak hingga mereka tidak mencari figure lain yang berdampat pada kekerasan dan pornografi.

Valentina juga menyampaikan bahwa dalam pertemuan African Union diangkat tema tentang kekerasan pada perempuan dan anak melalui media online diantaranya dengan kirim foto ato video yang berbau pornografi.Dengan kata lain, menurutnya, pornografi sejatinya adalah bentuk kekerasan terhadap anak dan perempuan.

Editor: Hamdan Yuafi

Sumber: A. Hery Fathurochman (Kepala Sub Bidang Penanganan Isu Kerukunan)

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter: @PKUB_KemenagRI

Instagram: @PKUB.KemenagRI