Rabu, 30 Oktober 2019, 22:36

Apa Itu Radikalisme Agama, Berikut Tipologinya

Sekjen Kemenag saat memberikan pengarahan dalam Dialog Lintas Agama di Mataram. Foto: Fahman/PKUB

Mataram, PKUB Dalam menjaga kerukunan umat beragama, hari ini kita dihadapkan pada tantangan baru yang lebih rumit. Yaitu radikalisme dalam beragama. Paham radikalisme dalam beragama berakar pada faham keagamaan yang dinamis. Dinamis antara kutub tektualis dan liberalisme.

Seiring dengan dinamisnya faham keagamaan, kemudian radikalisme itu muncul seiring ketika kita kebablasan dalam menyikapi faham keagamaan tersebut. Selanjutnya, dapat kita kategorikan radikalisme menjadi tiga tipologi, yaituradikal dalam berfikir, radikal dalam bertindak dan radikal dalam bepolitik

Radikal dalam pikiran adalah cara pandang yang menganggap kafir orang yang tidak sependapat dengan mereka. Yang kedua radikal dalam bertibdak, yaitu radikal dalam bertibdak berdaskan teks semat. Ketika teks berbunyi halal untuk di bunuh maka tanpa berfikir panjang maka dia akan melakukanya. Lebih berbahaya lagi yaitu radikal dalam berpolitik yaitu sudah ingin mengganti sistem negara yang telah disepakati bersama.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, M Nur Kholis Setiawan saat beliau membuka kegiatan Dialog Lintas Agama terkait pemeliharaan dan penguatan kerukunan umat beragama di Kota Mataram, hari ini, Rabu (30/10). Dalam kegiatan yang dihadiri para tokoh agama dari 10 provinsi di Indonesia ini, beliau juga menyampaikan tentang peran tokoh agama dalam melakukan counter narasi radikalisme.

Menurut sosok yang pernah terlibat proyek internasional bertajuk Midrash, Tafsir and Exegesis di Berlin ini, narasi kontra radikalisme dapat kita upayakan bersama-sama. Yang paling penting, kita para tokoh agama harus dapat menempatkan diri menjadi sosok yang memberikan pencerahan kepada para generasi milenial. Para tokoh agama harus terus menyampaikan tentang pesan pesan moderat.
Kita harus memproduksi konten-konten moderat sesuai yang kita bisa, yang bisa puisi monggo, yang bisa nulis monggo, kemudian kita sebar luaskan di sosial media agar dapat dikonsumsi oleh generasi milenial jelasnya.

Dalam kesempatan ini hadir pula memberikan ucapan selamat datang, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nasaruddin. Dalam sambutannya beliau menyampaikan selamat datang kepada Sekretaris Jenderal dan utamanya seluruh peserta kegiatan Dialog Lintas Agama. Menurutnya, Nusa tenggara Barat adalah miniaturnya indonesia, karena apa yang ada di Indonesia, ada di Nusa Tenggara Barat baik dari segi etnis, suku maupun agama.

Kakanwil juga tak lupa bercerita tentang kerukunan umat beragama di provinsi ini. Ada salah satu pulau di NTB yang dapat dijadikan contoh dalam kehidupan kerukunan umat beragama. Disana ada tempat wisata yang dikelola dan berada pada masyarakat mayoritas Musli. Akan tetapi pengelola dan masyarakat menerima seluruh wisatawan yang datang baik dari agama apapun dan suku manapun.

Tempat itu adalah pulau kecil yaitu Gili Trawangan ujarnya.

Berdasrakan keterangan Ketua Panitia, Muhammad Diansyah kegiatan tersebut masih akan berlangsung hingga besok Jumat (1/11) dan akan menghadirkan narasumber yang berkompeten dalam bidang agama dan pemerintahan, salah satunya adalah TGB Muhammad Zainul Majdi.

Penulis:Hamdan Yuafi

Telah dikoreksioleh: Desmon Andrian (Kepala Sub Bagian Tata Usaha pada PKUB)

Disetujui oleh: Nifasri (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama)

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter:@PKUB_KemenagRI

Instagram:@PKUB.KemenagRI

Berita Lainnya
Selasa, 24 September 2019, 16:55

Strategi Menjaga Papua Damai, Kedepankan Agama dan Tokoh Agama