Jumat, 27 September 2019, 13:35

Sekjen: Apa Itu Moderasi Beragama, Berikut Lima Indikatornya

Sekjen Kemenag, M. Nur Kholis Setiawan saat memukul gong sebagai bentuk simbolis pembukaan kegiatan Dialog Lintas Agama di Bogor (25/9). Foto: Evan

Bogor, PKUB - Peran pemuda dalam menjaga kerukunan antar umat beragama sangatlah penting. Utamanya di era digital seperti hari ini, para pemuda dinilai memiliki peran dalam menyebarkan pesan-pesan kerukunan melalui media sosial. Karena tempat beradu pikiran sekarang ini telah beralih, dari panggung-panggung di muka umum kehalaman-halaman sosial media.

Hal itulah yang menjadi salah satu tujuan Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) dalam melaksanakan kegiatan Dialog Pemuda Lintas Agama tingkat Regional Jawa dan Sumatera. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Cisarua Bogor ini, hadir 115 pemuda/i lintas agama yang merupakan utusan dari 15 provinsi di Jawa dan Sumatera. Kegiatan tersebut masihberlangsung hingga hari ini, Jumat (27/9).

Hadir memberikan pengarahan kepada seluruh pemuda lintas agama, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, M Nur Kholis Setiawan. Dalam pengarahannya beliau mengingatkanseluruh pemuda lintas agama tentang pentingnya kegiatan ini. Menurutnya, ini menjadi bukti bahwa kerukunan umat beragama di daerah terjalin dengan baik karena pesan kerukunan telah tersampaikan hingga para pemuda.

Eksistensi komunitas pemuda lintas agama adalah bukti terjaganya kerukunan sejak dini, ujarnya.

Tidak lupa dalam pengarahan, beliau menjelaskan apa itu moderasi beragama. Menurutnya untuk menciptakan kerukunan maka jalannya adalah dengan memahami hulunya atau prosesnya, karena kerukunan itu adalah hilirnya atau sebuah hasil.

Hulu atau prosesnya adalah pemahaman keagamaan, dan pilihannya adalah pemahaman keagamaan yang moderat, tegas sosok yang pernah terlibat dalam proyek penelitian lintas agama skala Internasional di Jerman ini.

Lalu apa itu sebenarnya pemahaman keagamaan yang moderat. Nur Kholis menjelaskan bahwa pemahaman agama yang moderat itu memiliki lima indikator yaitu keterbukaan bukan tertutup akan perbedaan, mengedepankan nalar bukan emosi, menyadari batas keilmuan dan tidak merasa paling benar, rendah hati atau tidak sombong serta yang terakhir tidak mengusik masalah keyakinan atau keimanan umat beragama lain.

Pengertian moderasi yang paling sederhana adalah meyakini bahwa agama yang dipeluknya paling benar tetapidengan menghargai keberadaan pemeluk agama lain, jelasnya.

Diujung pengarahannya beliau mengajak para Pemuda Lintas Agama untuk dapat menjadi Ice Breaker. Dengan kata lain menjadi pemecah kebuntuan sehingga bisa mencerahkan kehidupan beragama di masyarakat. Caranya yaitu dengan menyampaikan pesan-pesan kerukunan utamanya melalui media online.

Selain diisi dengan sesi ceramah, kegiatan Dialog Pemuda Lintas Agama ini juga akan dilengkapi permainan luar ruangan atau outbond. Tentu bukan outbond biasa akan tetapi permainan yang mengandung penguatan nilai moderasi dan kerukunan.

Yang tidak kalah penting, dari acara ini akan dijaring rekomendasi dari para pemuda lintas agama tentang pengembangan peran pemuda dalam menjaga kerukunan di Indonesia. Rekomendasi itu nantinya akan dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan Kementerian Agama.

Penulis:Hamdan Yuafi

Disetujui oleh: Desmon Andrian (Kepala Sub Bagian Tata Usaha pada Pusat Kerukunan Umat Beragama)

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter:@PKUB_KemenagRI

Instagram:@PKUB.KemenagRI