Selasa, 24 September 2019, 16:55

Strategi Menjaga Papua Damai, Kedepankan Agama dan Tokoh Agama

Kepala PKUB (berdiri) saat menjadi narasumber dalam Diskusi Publik Damai di Bumi Cendrawasih, hari ini (24/9). Foto: Hamdan/PKUB

Jakarta, PKUB - Hari ini, Kamis (24/9) Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama, Nifasri menjadi pemateri dalam kegiatan Diskusi Publik bertemakan Damai di Bumi Cendrawasih, Kita Semua Bersaudara. Kegiatan itu dilaksanakan oleh Forum Mahasiswa dan Pemuda Pengawal NKRI.

Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Upnormal Coffee Roaster Raden Saleh itu hadir puluhan pemuda dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dan latar belakang daerah di Indonesia. Hadir juga pemateri lain yaitu Ferdinandus Setu yang merupakan Kepala Biro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika, Alan MS dari Ketua Forum Lintas Suku Bangsa dan Budi Arwan dari Direktorat Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat Kementerian Dalam Negeri.

Sebagai pembuka dalam pemaparannya Nifasri menyampaikan bahwa agama memiliki peran yang sangat strategis di Indonesia. Indonesia bukanlah negara agama akan tetapi Indonesia mengakui keberadaan agama itu sendiri. Hal itu penting karena sejatinya agama mengajarkan kebaikan bagi para pemeluknya yang tidak lain masyarakat Indonesia sendiri.

Tidak lupa Beliau juga menjelaskan tentang flasafah yang dipeggang oleh masyarakat Papua dalam menjaga kerukunan. Falsafah tersebut adalah 'Tiga Tunggu Satu Batu: Agama, Adat dan Pemerintah'. Sehingga masyarakat Papua sejatinya sangat menjunjung tinggi agama. Falsafah itu menjadi sangat penting mengingat jika Papua terjadi konflik, maka tidak hanya di Papua dampaknya, akan tetapi juga akan berdampak secara nasional bahkan internasional.

Kaitannya dengan hal itu, dalam rangka untuk mengantisipasi konflik di Papua, PKUB memiliki tugas berat. Tugas itu tidak dapat dilakukan sendiri, harus melibatkan tokoh agama, tokoh adat, majelis agama dan tokoh masyarakat tidak terlepas juga para generasi muda dari kalangan mahasiswa dan pelajar.

Dalam upaya menjaga kerukunan agama di Papua, PKUB juga berperan dalam memberdayakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Papua. Di Papua forum ini menjadi jembatan bagi tokoh agama di Papua. Wujud jembatan tersebut adalah dengan adanya perwakilan tokoh agama dari semua agama di tanah Papua.

"Terlebih, saya sangat mengapresiasi FKUB disana, mereka tidak mengeluh terhadap kendala anggaran, mereka orangnya jujur dan sederhana" ujarnya.

Dalam kesempatan ini Kepala PKUB juga menyampaikan terkait strategi menjaga perdamaian di Tanah Papua. Menurutnya, untuk menciptakan perdamaian di Papua, agama dan tokoh agama harus dikedepankan.

Untuk mendukung penjelasannya tersebut beliau menyampaikan cerita pengalaman salah satu pendeta di Papua. Suatu ketika terjadi sebuah keributan, dan pendeta tersebut dinaikan ke mobil polisi untuk menghimbau masa pendemo agar tidak anarkis. Tanggapan pendemo malah sebaliknya, pendeta tersebut diancam oleh pendemo bahkan sudah mengangkat busur kepada pendeta tersebut. Seketika pendeta itu berkata saya ini pendeta. Seketika itu pula para pendemo menurunkan busur panahnya dan mundur.

"Ini bukti masyarakat papua masih menghargai tokoh agama" tegasnya.

Diakhir pemaparannya, Kepala PKUB juga menyampaikan program-program PKUB yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini, terutama yang berkaitan dengan Papua. Program yang dalam waktu dekat ini akan dilakukan adalah mengirim Tokoh Agama dari Papua untuk berkunjung ke Finlandia dan negara-negara Eropa yang lain. Tujuannya agar para tokoh agama itu dapat memberikan penjelasan terkait toleransi, kerukunan umat beragama dan moderasi beragama di Indonesia.

Penulis:Hamdan Yuafi

Disetujui oleh:Nifasri (Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama)

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter:@PKUB_KemenagRI

Instagram:@PKUB.KemenagRI