Kamis, 11 April 2019, 11:49

Kurang Interaksi Lintas Agama Berarti Kurang ‘Piknik’

Tampak pluhan pemuda lintas agama di Bangka Belitung tengah menyimak pemaparan materi. (Foto: Hamdan/PKUB)

PANGKAL PINANG, PKUB - Kunci dari toleransi beragama adalah kemauan untuk berinteraksi dan saling memahami perbedaan. Toleransi bukan berarti membenarkan keyakinan agama lain, akan tetapi sebaliknya menghargai keyakinan agama orang lain.

Interaksi lintas agama harus dibangun sejak dini, bahkan harus sudah ditanamkan sejak pendidikan usia dini. Artinya sedari dini, putra putri atau adik-adik kita harus kita arahkan untuk membiasakandiri bersua dengan orang yang memiliki agama lain. Akan menjadi sangat disayangkan jika sampai dewasa nanti dia belum pernah sama sekali berinterasi dengan umat lain. Hal ini hanya akan menciptakan individu yang eksklusif dalam beragama.

Hal serupa disampaikan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama dihadapan puluhan pemuda lintas agama di Bangka Belitung hari ini, Rabu (11/4/2019). Dalam kegiatan yang bertajuk Dialog Lintas Agama ini beliau mengajak kepada pemuda lintas agama di Bangka Belitung untuk aktif membangun komunitas lintas agama sebagai bentuk interaksi. Sebagai contoh di beberapa daerah ada Srikandi lintas agama, berkomunitas Nasyiatul Aisyiah itu penting akan tetapimembangun komunitas lintas agama jauh lebih penting, tuturnya.

Dalam kesempatan ini Kepala PKUB menganalogikan orang yang tidak pernah berinteraksi dengan komunitas agama lain dengan istilah yang sangat kekinian. Orang-orang yang kurang interaksi lintas agama itu berarti kurang piknik dan ngopi nya kurang jauh, demikian beliau menganalogikan.

6 Megatrends 2030

Dalam kesempatan ini hadir juga sebagai pemateri Wahyudi Himawan yang merupakan Ketua Pusat Pengembangan Madrasah di Bangka Belitung. Dalam kesempatan ini beliau menyampaikan digadapan pemuda terkait tantangan pelajar dan pemuda hingga tahun 2030 nanti yang biasa dikenal dengan Megatrends 2030. Pelajar dan pemuda hari ini mau tidak mau harus menghadapi 6 hal yang tidak mungkin ditolak yang disebut Megatrends 2030, itu semua yaitu Globalization 2.0, Crisis Lingkungan dan Energi, Perubahan Demografi, Era Digital, Peralihan Teknologi dan yang terakhirIndividualisme dan Pluralisme, demikian beliau menjelaskan.

Cupu Manik Asta Gina

Dihadapan para pemuda beliau membekali mereka dengan falsafah Cupu Manik Asta Gina (Cupu: Wadah, Mani: Sifat, Asta: Delapan, Gina: Berguna; i.e 8 sifatyang berguna, red). Delapan sifat itu disimbolkan dengan 8 elemen alam semesta yang masing-masing memiliki nilai dan falsafah yang berharga sebagai bekal bermasyarakat.

Pertama, Matahari, dia relamemberi kehidupan kepada semua makhluk walaupun dirinya terbakar kepanasan. Kedua, Angin yang sifatnya jujur. Ketiga, Samudera yang bermakna pemaaf. Keempat, Api sebagai simbol semangat. Kelima, Bulan yang menggambarkan teduh dengan pantulan sinarnya. Keenam, Air yang selalu hadir dimanapun tempatnya. Ketujuh, Tanah atau Bumi yang memiliki nilai kesabaran dan yang terakhir Bintang yang menggambarkan kerendahan hati.

Saya yakin jika kita semua memiliki sifat ini maka kerukunan umat beragama akan terjaga dan terpelihara dengan baik, tidak ada lagi saling mengkafirkan dan lain sebagainya, demikian beliau menjelaskan.

Penulis: Hamdan Yuafi

Sumber: Reportase Langsung

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter:@PKUB_KemenagRI

Instagram:@PKUB.KemenagRI

Berita Lainnya
Rabu, 10 April 2019, 11:52

Kakanwil Kemenag Babel: Jangan Sampai Ribut Hanya Karena Berbeda Pilihan

Selasa, 9 April 2019, 14:23

Kepala PKUB: Jangan Korbankan Kerukunan Hanya Karena Beda Pilihan

Kamis, 28 Maret 2019, 15:24

Kepala PKUB Ajak Tokoh Agama Bogor Terus Sosialisasikan Regulasi Terkait Kerukunan

Sabtu, 23 Maret 2019, 06:07

Kepala PKUB: Kita Akan Mudah Terpapar Hoax Tanpa Literasi Agama

Rabu, 20 Maret 2019, 15:55

Di Mojokerto Kepala PKUB Ajak Tokoh Agama Aktif Dekati Millenial