Rabu, 10 April 2019, 14:34

Kepala PKUB: Sangat Penting Beragama Secara Substantif

Kepala PKUB saat memberikan materi dalam Dialog Lintas Agama di Prov. Kep. Bangka Belitung (Foto: Lilies/PKUB)

PANGKAL PINANG, PKUB - Sejatinya agama adalah sebuahjalan hidup (the way of life) bagi setiap manusia yang menginginkan koneksi dengan Tuhan. Koneksi di sini bukan sekedar konotasi pragmatis, melainkan sadar bahwa Tuhan dengan segala Maha-Nya memerintahkan semua manusia untuk memahami agama secara substantif, tidak hanya kulitnya saja. Di sinilah manusia harus memahami bahwa semua agama Tuhan diperuntukan bagi kebaikan segenap manusia di jagat raya, bukan semata-mata untuk kebaikan agamanyasendiri.

Hal serupa juga disampaikan oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Saefudin dalam kesempatan Dialog Lintas Agama di Provinsi Bangka Belitung hari ini, Rabu (10/4/2019). Dalam kesempatan ini beliaumenyinggung tentang pentingnya beragama secara substansif dan tidak beragama secara politis atau lebih kepada politisasi agama.

Jika kita beragama tapi tidak memahami substansi agama dan masih membenci umat beragama yang lain maka beragama kita masih pada tataran politis, dengan kata lain beragama karena takut kehilangan umatnya, demikian sosok yang pernah menyelesaikan pendidikan doktoral di Australia ini menjelaskan.

6 Etika Kerukunan Umat Beragama

Beliau juga mengajak seluruh tokoh agama di Bangka Belitung untuk senantiasa mengamalakan dan mensosialisasikan 6 Etika Kerukunan Umat Beragama.Rumusanetika tersebut penting untuk ditaati oleh setiap umat beragama dalam menjalani kehidupan kemasyarakatan di tengah kemajemukan.

Dia menuturkan, rumusan itu menitikberatkan pada pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai antar pemeluk agama. Jika kita bersama-sama meneladani 6 etika tersebut maka saya yakin kerukunan akan tetap terjaga, mari kita amalkan dan sosialisasikan 6 etika tersebut ditengah-tengah masyarakat, ujar beliau.

Persoalan Hoax

Masalah yang sedang menghantuai masyarakat Indonesia hari ini adalah terkait Post-Truth. Era dimana berita bohong atau hoax yang disebar secara masif dapat dipercayai sebagai sebuah kebenaran. Fakta post-truth itu dapat kita lihat dalam fenomena Pemilu Presiden Amerika Serikat Tahun 2016 dan isuBrexit dikalangan warga Inggris, demikian beliau menjelaskan.

Beliau menambahkan bahwa ada sebuah miskonsepsi dikalangan para penyebar hoaxini. Mereka salah mengolah sebuah opini, opini seharusnya diolah dari data-data baru kemudian disimpulkan, akan tetapi mereka (para penyebar hoax, red) langsung menuju pada kesimpulan tanpa menilik kepada fakta, demikian beliau menjelaskan.

Di akhir pemaparan, beliau mempersilahkan seluruh peserta untuk berdiskusi dan berdialog secara interaktif dengan beliau. Dengan harapan sesi ini dapat digunakan sebagai sarana menjembatani aspirasi tokoh agama kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama.

Penulis: Hamdan Yuafi

Sumber: Reportase Langsung

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter:@PKUB_KemenagRI

Instagram:@PKUB.KemenagRI

Berita Lainnya
Selasa, 2 Juli 2019, 10:50

Produksi Film Dokumenter Kerukunan, Tim Peneliti UGM Selenggarakan FGD di Singkawang

Senin, 1 Juli 2019, 13:03

Kunjungi PKUB, ICRS Diskusikan Diseminasi Kebebasan Beragama

Kamis, 27 Juni 2019, 21:55

Sekjen Kemenag: Kegiatan Kerukunan Harus Sering Libatkan Generasi Muda

Jumat, 21 Juni 2019, 12:00

Kunjungi Kantor PKUB, Asia Foundation Jajaki Kerjasama Program

Rabu, 15 Mei 2019, 09:54

Melalui Workshop Manajemen Isu Kerukunan, PKUB Perkuat Konduktor Pesan Kerukunan di Purwakarta