Minggu, 9 Desember 2018, 10:23

Sekjen Kemenag: Cermati 4 Proses Perubahan Demografis Pemicu Konflik Keagamaan

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Muhammad Nur Kholis Setiawan tengah memberikan pengarahan dihadapan puluhan tokoh agama di Depok

DEPOK, PKUB Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Muhammad Nur Kholis Setiawan berkesempatan memberikan pengarahan dan materi dalam kegiatan Workshop Manajemen Konflik dan Mediasi di Depok pada hari terakhir penyelenggaraan kegiatan ini, Minggu (09/12/2018). Dalam pengarahan, beliau mengajak seluruh peserta yang merupakan tokoh agama dari Kota Depok dan Kota Bekasi untuk mencermati empat proses perubahan demografis yang dapat memicu terjadinya konflik keagamaan. "Proses perubahan demografis ini seringnya terjadi di wilayah perkotaan atau wilayah penyangga perkotaan, seperti Bekasi dan Depok ini", tutur sosok yang pernah menempuh pendidkan doktor studi Islam di Bonn University Jerman ini.

Beliau menjelaskan bahwa empat proses pertama adalah proses industrialisasi yang menimbulkan deprivasi rlatif atau perasaan tertinggal dari pada kelompok lain yang menikmati proses industrialisasi tersebut. Kedua, kelompok yang mengalami deprivasi relatif selanjutnya akan merasakan proses yang disebut dislokasi atau merasa tidak nyaman berada di lokasi/tempat tinggalnya sendiri. Ketiga, setelah menglami keadaan dislokasi maka kelompok ini akan merasakan proses selanjutnya yaitu disorientasi atau keadaan tidak memiliki kejelasan dalam orientasi masa depan. Selanjutnya, proses yang terakhir yaitu negativisme yang muncul dikalangan kelompok tersebut dan menilai semua yang datang ke wilayahnya adalah hal negatif.

"Jika negativisme ini dibungkus oleh kelompok tertentu dengan menarik isu sentimen agama kedalamnya maka akan sangat mudah untuk menyulut sebuah konflik yang sangat berbahaya, kita bisa belajar dari kasus konflik Sampit, yang juga berlaku proses ini, kita harus belajar, saya kira enough is enough, jangan sampai terjadi lagi", demikian Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini menjelaskan.

Selanjutnya beliau juga mengajak para tokoh agama untuk melakukan upaya pencegahan konflik keagamaan dengan melakukan empat hal. "Agar tidak terjadi konflik seperti di Sampit, saya mengajak tokoh agama untuk menerapkan empat hal, tokoh agama harus memapu mengidentifikasi penyebab konflik, menemukan solusi, hadir sebagai aktor dan mendasarkan setiap upaya pencegahan konflik sebagai ibadah", demikian beliau memaparkan secara rinci.

Dalam kesempatan ini pula, beliau mengajak kepada para tokoh agama untuk senantiasa mengedepankan moderasi beragama. Karena menurut beliau, saat ini, kita dihadapakan oleh dua kutub ekstrimisme yang sangat membahayakan, yaitu kutub konservatif yang sangat tekstual dan lawannya yaitu kutub liberalis. "Sehingga, mari kita bawa ajaran agama yang bersifat moderat, tidak terlalu keras juga tidak terlalu longgar, karena ajaran agama itu sejatinya memanusiakan manusia" demikian beliau menjelaskan.

Pada akhir pengarahan, beliau juga sekaligus menutup kegiatan Workshop Manajemen Konflik dan Mediasi yang telah berlangsung selama 3 (tiga) hari ini dengan bersama sama mengucapkan kalimat syukur.

Sumber: Reportase Langsung

Penulis:Hamdan Yuafi

---------------------------------------

Pusat Kerukunan Umat Beragama

Gedung Kementerian Agama Lt. 5

Jl. MH. Thamrin No. 6 Jakarta Pusat

Telp: (021) 3149689

Twittter:@PKUB_KemenagRI

Instagram:@PKUB.KemenagRI

Berita Lainnya
Minggu, 30 Desember 2018, 06:58

Tanggapan Lengkap Menag Atas Risalah Jakarta, Serius Jadikan Pedoman Kerukunan Umat Beragama

Jumat, 7 Desember 2018, 22:25

Pentingnya Interaksi Sosial Guna Menjaga Kerukunan

Selasa, 4 Desember 2018, 10:17

PKUB Ajak Tokoh Agama Berikan Jawaban Paling Bijak Terkait Pilihan Politik

Kamis, 29 November 2018, 12:04

UN Women Indonesia, Pemuda Harus Gunakan Sosial Media Untuk Promosikan Toleransi

Selasa, 27 November 2018, 17:02

RI-Polandia Berkomitmen Lanjutkan Kerjasama Dialog Lintas Agama dan Budaya