Rabu, 24 Oktober 2018, 09:27

PKUB Selenggarakan Workshop Kontra-Narasi Radikalisme untuk Pemuda di Malang

Terlihat para peserta yang merupakan para aktivis pemuda di Malang tengah menyimak pemaparan materi pelatihan dari salah seorang pemateri.

MALANG-PKUB. Keberadaan internet dan media sosial saat ini telah membuka peluang bagi siapa saja untuk secara bebas memperoleh, membuat dan menyebarkan pesan secara luas, cepat, dan interaktif. Selain biaya akses yang lebih murah, penggunaan internet dan media sosial juga mudah digunakan oleh siapa saja. Dari perspektif tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa internet dan media sosial memiliki pengaruh sangat kuat bagi masyarakat, baik positif maupun negatif.

Diantara dampak positifnya, internet dan media sosial tidak hanya terbatas sebagai alat komunikasi. Penggunaan internet bahkan lebih jauh untuk kegiatan produktif, seperti memesan transportasi, melakukan bisnis, mengekspresikan ide-ide kreatif dalam bentuk audio-visual. Namun demikian, ada juga beberapa dampak negatif yang dibawa oleh internet dan media sosial. Salah satu dari banyak efek negatif tersebut adalah media sosial digunakan sebagai sarana menyebarkan ide-ide keagamaan yang tidak toleran oleh kelompok-kelompok radikal.

Upaya melawan penyebaran radikalisme bukan hanya tugas pejabat pemerintah, tetapi semua komponen masyarakat juga harus bersatu untuk berperang. Perlu dikembangkan model pencegahan berbasis masyarakat agar generasi bangsa tidak terkena virus radikalisme dan intoleransi. Diantara komponen-komponen paling strategis dari masyarakat yang terlibat dalam upaya-upaya kontra-radikalisme adalah kelompok pemuda.

Berdasarkan pertimbangan ini, Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama Republik Indonesia menyelenggarakan Workshop Penanganan Isu Kerukunan dengan tema Peran Pemuda Lintas Agama dalam Mencegah dan Menangkal Radikalisme di Internet dan Media Sosial. Workshop yang dilaksanakan pada 23-24 Oktober 2018 di Regents Park Hotel Malang ini melibatkan berbagai unsur pemuda dan mahasiswa lintas agama se-Malang Raya, seperti GP Anshor, Fatayat NU, Banser, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisiyah, Kokam, Pemuda Katolik, Pemuda Kristen, Pemuda Hindu, Pemuda Buddha, Pemuda Konghucu, dan beberapa mahasiswa lintas agama.

Workshop yang dilakukan selama dua hari ini dibuka oleh Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Haris Hasanudin. Agar peserta mendapatkan wawasan yang mendalam, sejumlah narasumber kompeten sengaja dihadirkan, seperti Kim Hok-jo selaku Counsellor Kedutaan Besar Republik Korea di Jakarta; Irfan Idris dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme; Ferimeldi selaku Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Wawan Djunaedi selaku Kepala Bidang Harmonisasi Umat Beragama PKUB; Ahmad Nur Wakhid dari Densus 88; dan Ismail Chawidu dari Kementerian Komunikasi dan Informatika

Di samping menerima sejumlah materi dari narasumber yang kompeten, pada hari kedua workshop kali ini peserta juga akan diajak merancang working group. Peserta diminta merancang proyek kerja untuk merancang konten counter narrative terhadap berbagai narasi radikal, baik melalui Facebook, Twitter, Instagram, dan sosial media lainnya. Di akhir acara, pemuda dan mahasiswa lintas agama yang telah aktif dalam workshop juga didorong untuk melakukan Deklarasi Pemuda Lintas Agama Melawan Radikalisme.

Sumber: Wawan Djunaedi

Editor: Hamdan Yuafi

Berita Lainnya
Selasa, 30 Oktober 2018, 06:17

JK Ajak Pemuda ASEAN Belajar dari Bhinneka Tunggal Ika

Senin, 29 Oktober 2018, 09:41

Pembukaan AYIC 2018: Sekjen Kemenag, Pemuda adalah Pelopor Dialog Antar Agama

Rabu, 3 Oktober 2018, 14:50

Dialog Lintas Agama: Langkah Strategis Membangun Peradaban Bangsa

Rabu, 26 September 2018, 11:59

Asosiasi Muslim Cina Puji Pembangunan dan Keberagamaan di Indonesia

Rabu, 19 September 2018, 09:53

Pembukaan Workshop Wawasan Multikultural Kendari: Radikalisme Berpotensi Mengancam Kerukunan Umat Beragama