Rabu, 3 Oktober 2018, 14:50

Dialog Lintas Agama: Langkah Strategis Membangun Peradaban Bangsa

Para delegasi dari India berfoto bersama dengan Wakil Menteri Luar Negeri RI, H.E. AM Fachir (tengah).

YOGYAKARTA-PKUB. Hari ini (2/10) Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Kementerian Agama RI bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri RI melaksanakan Kegiatan Interfaith Dialogue Indonesia dan India yang pertama. Kegiatan ini dilaksanakan di Yogyakarta dan akan berlangsung sampai tanggal 5 Oktober 2018 mendatang. Kegiatan ini mengangkat tema besar: Sharing of Best Practices, Lessons Learnt And Way Forward.

Kegiatan dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri H.E. AM Fachir. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa interfaith dialogue adalah salah satu forum strategis untuk membangun peradaban antara bangsa. Dalam setiap kegiatan, selalu ada nilai baru yang bisa untuk dibagikan satu sama lain atas berbagai pengalaman antara bangsa-bangsa. Oleh karena itu interfaith dialogue Indonesia dan India sangat penting untuk kedua negara yang mana tergolong negara yang sangat besar di Asia.

Ucapan selamat datang disampaikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X yang diwakili oleh Asisten Sekretariat Regional Ekonomi Provinsi DIY, Bapak Budi Wivowo. Dalam Sambutannya Sri Sultan mengungkapkan rasa hormat dan terima kasih bahwa kegiatan ini dilangsungkan di Yogyakarta. Yogyakarta yang dihuni sekitar 3 setengah juta penduduk adalah kota yang multikultural dan hidup penuh toleran. Peran Kraton, Pemimpin Agama dan Kerjasama semua penduduk dengan stakeholder sangat baik, sehingga selalu tumbuh komunitas hidup bersama yang rukun dan damai. Agama-agama hidup saling berdampingan satu sama lain tanpa ada kesulitan. Candi Hindu Prambanan berdekatan dengan Candi Buddha Sewu merupakan bukti jelas kerukunan umat beragama di Yogyakarta.

Dari pihak India, memberikan sambutan Mr. Bibek Debroy yang merupakan penasehat Ekonomi bagi Perdana Menteri India. Dalam kata sambutannya beliau menyampaikan ikut berduka dan turus mengambil bagian dalam gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah. Seterusnya dalam sambutannya Mr. Bibek Debroy mengatakan bahwa antara India dan Indonesia punya kesejarahan yang saling terkait satu sama lain. Sejumlah prinsip-prinsip kenegaraan dan kebudayaan banyak diinspirasi dari tradisi Hindu India. Mr. Bibek merasa sangat senang sekali dan tentu semua anggota delegasi dari India akan kegiatan pertama ini yang diharapkan dapat semakin memperkuat hubungan antara India dan Indonesia ke depan.

Wakil Menteri Luar Negeri Mr. A.M. Fachir dalam sambutannya juga memulai dengan mengajak seluruh peserta untuk hening sebentar dan berdoa untuk Sulawesi Tengah. Lebih lanjut Beliau sampaikan bahwa PM India sudah komunikasi dengan Presiden Jokowidodo tentang sejumlah bantuan dan keterlibatan India untuk Sulawesi Tengah. Wakil Menteri Luar Negeri membagikan pengalamannya bahwa interfaith dialogue adalah salah satu forum strategis untuk membangun peradaban antara bangsa. Dalam setiap kegiatan, selalu ada nilai baru yang selalu disharing satu sama lain atas berbagai pengalaman antara bangsa-bangsa karena itu interfaith dialogue Indonesia dan India sangat penting untuk kedua negara yang dua2nya negara yang sangat besar di Asia.

Rangkaian seluruh acara dibuat sedemikian rupa sehingga terjadi komunikasi antar kedua Negara. Pertemuan dalam ruangan terdiri dari 2 sesi di mana kedua delegasi saling membagikan pengalamannya satu sama lain. Banyak tokoh dan pakar di Indonesia turut dihadirkan mengisi sesi pertama, beberapa diantaranya yaitu Ibu Siti Syamsiatun (Direktur ICRS) dan Bapak Dicky Sofjan (ICRS) dari pihak Indonesia sementara dari pihak India disampaikan oleh Maulana Mahmood Madani (Islam) dengan moderator Bapak Muhammad Ahnaf Iqbal. Sesi ini juga mengundang dua (2) narasumber untuk memberikan komentar dan pendalam yakni Suryanto (Dosen Hindu) dan Dhammapiya Bhante (Sekretaris Jenderal Konfederasi Internasional Budda).

Sessi Kedua dengan tema Sharing Best Practice on Preventing and Countering Violent Extremism, Terrorism, Radicalization and Hate Speech. Sessi ini menampilkan pembicara dari Indonesia yakni Abdul Muti (Sekretaris Muhammadiyah) dan Khoiruddin Nasution (UIN Sunan Kalijaga) sementara narasumber dari delegasi India adalah Tariq Mansoor. Dalam kesempatan ini juga hadir Suhadi Cholil dari Sekolah Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga dan H.E. Conrad Sangma dari India sebagai penanggap pembicaraan, sesi ini dipimpin oleh moderator Mr. Asif Ibrahim.

Kegiatan dilanjutkan dengan Kuliah Umum di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah rumah Ibadah yakni Masjid Syuhada, Gereja HKBP, Gereja Santo Antonius Kota Baru dan Klenteng di Yogyakarta.

Kegiatan rencana akan ditutup oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI Bp Cecep M.J. Akbar dan Menteri Luar Negeri India pada Jumat (05/10) mendatang.

Sumber: Paulus Tasik Galle'

Editor: Hamdan Yuafi

Berita Lainnya
Selasa, 30 Oktober 2018, 06:17

JK Ajak Pemuda ASEAN Belajar dari Bhinneka Tunggal Ika

Senin, 29 Oktober 2018, 09:41

Pembukaan AYIC 2018: Sekjen Kemenag, Pemuda adalah Pelopor Dialog Antar Agama

Rabu, 24 Oktober 2018, 09:27

PKUB Selenggarakan Workshop Kontra-Narasi Radikalisme untuk Pemuda di Malang

Rabu, 26 September 2018, 11:59

Asosiasi Muslim Cina Puji Pembangunan dan Keberagamaan di Indonesia

Rabu, 19 September 2018, 09:53

Pembukaan Workshop Wawasan Multikultural Kendari: Radikalisme Berpotensi Mengancam Kerukunan Umat Beragama