Selasa, 17 April 2018, 16:00

WORKSHOP PENGEMBANGAN WAWASAN MULTIKULTURAL BAGI TOKOH AGAMA DAN MAHASISWA DI KOTA SOLO, JAWA TENGAH

Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama R.I. Ferimeldi, Ph.D. saat membuka dan memberikan Pengarahan di Hotel Sunan, Solo Jawa Tengah

( Solo / PKUB) Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama R.I. menyelenggarakan Workshop Pengembangan Wawasan Multikultural Bagi Tokoh Agama dan Mahasiswa yang dilaksanakan di Hotel Sunan Solo. Kegiatan ini merupakan rangkaian program pemantapan kerukunan umat beragama yang pada tahun ini ditetapkan dibeberapa daerah. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Bagian Tata Usaha Drs.H. Suhersi, sambutan dan pengarahan oleh Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Ferimeldi, Ph.D. Kegiatan yang akan dilaksanakan selama 2 hari, 17 dan 18 April 2018 di isi oleh pemateri dari Densus 88 Anti teror Kombes Pol. Drs. Akhmad Nurwahid, S.E., M.M. dan Kepala Bidang Harmonisasi Umat Beragama H. Wawan Djunaedi, M.A.

Ditetapkan Solo menjadi tempat diselenggarakannnya Workshop ini bukan karena dianggap banyak kelompok intoleran dan radikal, tetapi tujuan utamanya adalah mendapatkan input sebanyak - banyaknya informasi dari Tokoh Agama terkait Kerukunan Umat Beragama dan pengembangan wawasan multikultural di Solo dan sekitarnya. Dalam materi yang disampaikan oleh Kombes Pol. Akhmad Nurwahid dengan tema Deradikalisasi dengan pendekatan tasawuf disampaikan bahwa Densus 88 sejatinya hanya bisa meng-cover 45% dari seluruh wilayah Indonesia, selebihnya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Oleh sebab itu di dalam Densus 88 dikembangkan pendekatan Tasawuf. Disampaikan pula bahwa pada dasarnya tidak ada konflik agama, yang terjadi adalah konflik kepentingan dengan mengatasnamakan agama. orang yang berpikiran radikal selalu dipengaruhi oleh kelompok munafik yaitu orang-orang yang menjadikan agama untuk mencari keuntungan duniawi semata. Juga dikatakan bahwa faktor ekonomi atau kemiskinan hanya salah satu faktor pemantik tetapi bukan faktor utama, faktor utamanya politisasi agama. Ada analisis intelijen yang mengindikasikan bahwa adanya grand desain negara-negara hegemonis asing dalam menyebarkan radikalisme, demikian dikatakan oleh Akhmad Nurwahid. Keberhasilan Densus 88 sudah diakui oleh Dunia, dan dikatakan bahwa strategi yang dilakukan adalah pendekatan ideologi dan agamis.

Dalam sesi berikutnya materi disampaikan oleh Kepala Bidang Harmonisasi Umat Beragama H. Wawan Djunaedi, M.A., dalam materinya beliau mengatakan mindset radikal bila tidak diberikan wacana moderat maka akan cenderung untuk melakukan perbuatan radikal, maka diharapkan para Tokoh Agama yang berpikiran moderat jangan menajadi Silent Majority, mari kita ramaikan jagat maya dengan wacana -wacana keagamaan yang moderat.

Editor : MD

Sumber : Deny Setyawan

Berita Lainnya
Rabu, 21 Februari 2018, 10:28

Kementerian Agama Melalui PKUB Tekankan Moderasi Beragama dalam Menyambut Pilkada Serentak Tahun 2018

Selasa, 13 Februari 2018, 10:35

Sinergi Sangat Diperlukan Untuk Mencegah Paham Radikal di Indonesia

Selasa, 13 Februari 2018, 08:40

Peran Kementerian Agama dalam Mencegah Radikalisme

Senin, 12 Februari 2018, 22:15

Moderasi Agama Dalam Mencegah Konflik Agama di Tahun Politik

Senin, 21 Agustus 2017, 08:26

Kaji Terap KUB Kanwil Kemenag Babel Di Kanwil Kemenag NTT