Kamis, 2 Mei 2013
Dasar Pemikiran Interfaith Dialogue

Indonesia adalah negara yang pluralis dan multi agama. Dalam administrasi sipil, afiliasi keberagamaan masyarakat dibagi ke dalam enam agama: Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Dalam konteks Indonesia sebagai negara multi agama maka prinsip kebebasan beragama tidak hanya mempunyai landasan pijak dalam Pancasila, Konstitusi dan Undang-Undang Nasional, melainkan juga berakar kuat dalam tradisi berbagai agama dan kepercayaan yang sudah hidup ribuan tahun di Nusantara.

Seiring dengan dinamika politik dunia, agama menjadi terkait dengan peristiwa besar yaitu peristiwa serangan 11 September 2001 (11/9) di World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat (AS). Dengan implikasi luas ke seluruh dunia, peristiwa 11/9 memicu terciptanya rasa kewaspadaan dan juga kecurigaan. Sejak itu, terorisme – yang dikaitkan dengan agama – dinilai sebagai ancaman perdamaian dan keamanan internasional. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah munculnya ”tuduhan” dari negara-negara Barat khususnya terhadap kelompok Islam tertentu sebagai pelaku terorisme. Mispersepsi dan misinterpretasi negara-negara di Barat yang mengkaitkan Islam dan terorisme tentunya merugikan negara-negara Islam di dunia termasuk Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia. Tindakan terorisme telah merubah perspektif dunia tentang hubungan internasional yang hanya mengedepankan isu-isu keamanan dan terorisme. Hal tersebut, selanjutnya menimbulkan dampak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap kehidupan antar umat beragama dan juga terhadap kehidupan kaum Muslim sendiri.

Di Indonesia, rangkaian serangan bom telah menambah kekhawatiran dan ketakutan masyarakat dunia akan tindak kekerasan yang dilakukan oleh jaringan teroris dunia di Indonesia. Peristiwa tersebut juga telah menimbulkan adanya dugaan apakah Indonesia merupakan sarang atau tempat berkembangnya kelompok teroris di wilayah Asia Tenggara ”homegrown terrorism”. Adanya aksi pengeboman dan konflik komunal yang disalah-artikan sebagai konflik antar umat beragama di berbagai wilayah di Indonesia, juga telah mencoreng wajah Islam di Indonesia karena secara fakta, para pelakunya adalah individu-individu yang beragama Islam.

Di lain pihak, suksesnya Pemilu Legislatif dan Presiden RI pada tahun 2004 telah mengangkat harkat dan martabat Indonesia di hadapan masyarakat Internasional. Pemilu yang berlangsung secara aman, damai dan sukses di negara yang berpenduduk mayoritas Muslim tersebut, telah membuktikan bahwa Islam dan demokrasi dapat berjalan seiringan. Dari success story tersebut, kemudian timbul adanya suatu kepentingan untuk memproyeksikan citra Indonesia sebagai negara demokrasi dengan mayoritas Muslim yang moderat serta merubah citra Indonesia sebagai negara korban terorisme dan bukan merupakan sarang dari terorisme.

Melanjutkan budaya dialog lintas agama yang telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia serta merupakan tugas, pokok dan fungsi kerja Kementerian Agama RI, maka sejak tahun 2004, Pemri cq. Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) telah mempromosikan budaya dialog lintas agama tersebut kepada masyarakat internasional sekaligus sebagai bentuk upaya pro-aktif Pemri dalam mengedepankan sikap toleransi dan saling memahami antar sesama umat beragama dan antar peradaban. Hal ini dinilai penting untuk menghilangkan kecurigaan dan kesalahpahaman antar agama dan budaya, dan sebaliknya mempromosikan harmoni dan kerjasama. Pemri menilai bahwa Indonesia adalah negara yang tepat untuk mengembangkan budaya dialog lintas agama mengingat latar belakangnya yang multikultur.

 Pemberdayaan Kaum Moderat dan Melawan Stereotip Negatif

Budaya dialog lintas agama dan budaya perlu dibangun dan diperkuat karena dipercaya dapat membantu menciptakan dunia yang lebih aman dan damai, terutama di tengah maraknya ancaman seperti terorisme. Terkait dengan itu, Indonesia secara tegas menolak pengaitan terorisme dengan agama atau budaya tertentu. Namun disadari bahwa upaya memberantas terorisme dalam jangka panjang perlu dilakukan dengan mengikis akar-akar terorisme yang muncul dari radikalisme dan manipulasi terhadap agama. Dalam kaitan ini, Indonesia melihat pentingnya pemberdayaan kaum moderat (empowering the moderates).

Keberhasilan memberantas terorisme, baik jangka menengah maupun jangka panjang, akan sangat tergantung dari keberhasilan memberdayakan kaum moderat. Meningkatkan pengertian mengenai Islam di Indonesia yang moderat, yang tidak hanya pada esensi ke-Islamannya, namun pada perilaku dan toleransi terhadap umat beragama lainnya. Melalui pemberdayaan kaum moderat, Indonesia berupaya untuk mengembangkan budaya dialog dan promosi toleransi antara pihak-pihak yang berbeda agama, budaya dan latar belakang maupun antara kelompok moderat dan less moderates. Dialog lintas agama dan budaya, yang diusahakan menjadi fitur tetap diplomasi Indonesia ke depan baik secara bilateral, regional maupun multilateral.

Kegiatan dialog lintas agama yang diprakarsai oleh Indonesia, juga ditargetkan untuk melawan stereotip negatif tentang Islam yang berkembang di Barat dimana terdapat anggapan bahwa Islam berada dibalik berbagai aksi terorisme. Disamping itu, terdapat pula anggapan bahwa stereotip negatif yang berkembang di Barat tentang Islam dan pemeluknya adalah karena kurangnya pemahaman masyarakat Barat mengenai agama Islam. Untuk mencegah menguatnya stereotip negatif di Barat terhadap Islam dan pemeluknya dan juga meningkatkan pemahaman masyarakat muslim, khususnya di Indonesia, terhadap nilai-nilai Barat maka dipandang perlu mengambil langkah-langkah untuk menjembatani perbedaan tersebut melalui kegiatan dialog lintas agama.

Dialog Lintas Agama Sebagai  Implementasi  Diplomasi  Total

Kegiatan dialog lintas agama adalah saluran komunikasi efektif antara Pemerintah RI (Kemlu RI dan Kemenag RI) dan kalangan civil society seperti antara lain ormas keagamaan, ormas pemuda dan mahasiswa, kampus dan think tank, dan media masa. Kegiatan ini adalah forum bagi civil society untuk menyuarakan pandangan dan seruan toleransi dan perdamaian, sehingga dapat merubah potensi konflik menjadi kerjasama yang saling menguntungkan. Secara tidak langsung, Pemri telah mendekatkan jurang pemisah antara faktor internasional dengan faktor domestik (pendekatan intermestik). Dialog lintas agama terbukti merupakan wahana bagi Pemerintah Indonesia untuk tetap konsisten menjalankan pendekatan Diplomasi Total yang melibatkan seluruh komponen dalam civil society sekaligus menciptakan networking dan kerjasama serta bantuan luar negeri.

Dialog Lintas Agama Bagi Terciptanya Harmoni Antar Peradaban

 Kegiatan dialog lintas agama telah menunjukkan adanya apresiasi yang positif terhadap Indonesia di berbagai forum internasional. Selain besarnya minat-minat negara-negara lain untuk berpartisipasi, dan menjadi Tuan rumah serta sebagai co-sponsor dari kegiatan lintas agama tersebut, berbagai negara bahkan melakukan inisiatif serupa untuk menggalang pemberdayaan kaum moderat di dunia seperti melalui kegiatan Alliance of Civilizations yang digagas oleh Spanyol dan Turki dan GNB Interfaith Dialogue yang digagas oleh Filipina. Namun demikian, tetap penting bagi Pemri agar kegiatan dialog lintas agama dapat memperkuat status Indonesia sebagai the force of dialogue. Tercapainya pemberdayaan kaum moderat dan upaya melawan stereotip negatif Islam, pada gilirannya dapat memberikan sumbangan yang signifikan dalam pemberantasan terorisme sekaligus adanya pengakuan dunia internasional atas peran Indonesia sebagai negara pelopor interfaith dialogue. Pemri akan terus menggalakkan kegiatan Interfaith Dialogue sebagaimana yang senantiasa disampaikan oleh Presiden SBY dalam kuliah umum di Harvard University 29 September 2009 di AS, sambutan pelantikan selaku Presiden RI, 20 Oktober 2009 dan arahan Presiden RI pada Rapat Kerja Kepala Perwakilan RI pada 4 Februari 2010 dimana Indonesia seyogyanya terus mendorong tercapainya “Harmony amongst Civilization” dengan mengedepankan dialog antar peradaban di berbagai tataran.

FAQ
Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 0.068473 detik
Diakses dari alamat : 103.7.12.4
Jumlah pengunjung: 39887
Lihat versi mobile
Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
© Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.